Ustaz yang tampil lucu atau populer sering lebih viral ketimbang yang mendalam dan ilmiah.
IFA.id mencatat, sebagian ulama menyerukan agar dakwah digital tetap mengedepankan substansi dan keteladanan, bukan sekadar visual.
Baca Juga: Belajar dengan Niat Ibadah: Rahasia Ilmu yang Membawa Berkah
Dr. KH. Abdul Wahid Maktub, dalam seminar “Pesantren Digital dan Spirit Ibadah Ilmu” di UIN Syarif Hidayatullah, menekankan: “Santri zaman digital bukan berarti meninggalkan pesantren. Tapi membawa semangat pesantren ke dunia digital: adab, kejujuran, dan ketekunan.”
IFA.id Melihat: Dari Musholla ke Metaverse
Beberapa pesantren kini mulai bereksperimen dengan dunia metaverse pendidikan. Santri bisa “ngaji” dalam ruang virtual 3D lengkap dengan avatar.
Di Pondok Pesantren Nurul Jadid, misalnya, guru tafsir membuat simulasi perjalanan Isra Mi’raj dalam ruang virtual agar santri bisa “merasakan” makna spiritualnya.
Teknologi, jika diarahkan dengan niat ibadah, justru bisa memperdalam pengalaman belajar.
Tantangannya: tetap menjaga adab, etika, dan keterhubungan spiritual dengan guru.
Baca Juga: Kedamaian di Tengah Malam: Rahasia Sholat Sunnah Tahajud dalam Menyembuhkan Jiwa
Karena sejauh apa pun teknologi melangkah, adab dan keberkahan tetap tak tergantikan.
Menjaga Keberkahan di Tengah Sinyal
Menuntut ilmu di era digital berarti belajar menyeimbangkan dua dunia: dunia data dan dunia doa.
IFA.id mengingatkan, keberkahan ilmu muncul ketika:
-
Niat belajar karena Allah.
-
Menghormati guru, meski lewat layar.
-
Mengamalkan ilmu yang didapat.
-
Tidak sombong dengan pengetahuan digital.