IFA.id - Pernah membayangkan bagaimana pendidikan Islam pertama kali dimulai?
Bukan di ruang kelas mewah, bukan pula di universitas besar.
Justru di sebuah rumah kecil di lereng bukit Shafa, seorang lelaki bernama Arqam bin Abi Arqam mengizinkan Rasulullah SAW menjadikannya tempat belajar pertama bagi umat Islam. Di sanalah, sejarah “madrasah pertama di dunia” dimulai dan peradaban ilmu Islam lahir.
IFA.id mencatat, sekitar tahun 613 M, ketika dakwah Islam masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi di Makkah, Rasulullah SAW membutuhkan tempat aman untuk mengajarkan wahyu kepada para sahabat.
Rumah Arqam bin Abi Arqam yang saat itu berusia sangat muda menjadi pilihan. Di rumah itulah, lahir generasi pertama pembelajar Islam: Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah, dan belasan sahabat lainnya.
Mereka duduk mengelilingi Rasulullah, belajar langsung tentang tauhid, akhlak, dan nilai kemanusiaan. Tak ada papan tulis, tak ada pena; hanya hafalan dan hati yang terbuka.
Baca Juga: Jejak Rasulullah: Peninggalan Fisik dan Spiritualitas yang Masih Hidup
Dari sinilah istilah “Dar al-Arqam” — rumah Arqam — menjadi simbol awal lahirnya lembaga pendidikan Islam. Sebuah tempat di mana ilmu bukan sekadar teori, tapi cahaya yang menuntun jiwa.
IFA.id menelusuri bahwa Rasulullah SAW menanamkan gagasan luar biasa: ilmu sebagai pondasi perubahan. Dalam pandangan beliau, tidak ada revolusi sosial tanpa pendidikan.
Nabi memulai dari yang paling dasar membebaskan pikiran manusia dari belenggu kejahilan.
Dalam satu hadis disebutkan: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini bukan sekadar anjuran. Ia adalah deklarasi peradaban: bahwa setiap insan, laki-laki dan perempuan, memiliki hak dan kewajiban untuk berilmu.
Baca Juga: Arsitektur Islam Pertama: Masjid Nabawi dan Filosofi di Balik Desainnya
Dari prinsip ini, tumbuhlah kesadaran intelektual umat Islam yang kelak melahirkan para ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi.
Menariknya, Dar al-Arqam bukan tempat khusus bagi bangsawan Quraisy atau orang terpandang. Semua orang boleh datang dari budak hingga saudagar kaya. Ini menunjukkan egalitarianisme pendidikan Islam sejak awal.
Rasulullah SAW tidak pernah membeda-bedakan muridnya. Setiap orang diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, bahkan mengungkapkan keraguan. Dalam pandangan beliau, ilmu harus membuka, bukan menutup.