Kiai Sholahuddin, pengasuh salah satu pesantren besar di Jawa Timur, pernah berkata, “Bukan anak yang hafal seribu hadis yang kuat, tapi yang bisa menjaga dirinya di hadapan gurunya.”
5. Orang Tua dan Peran Penting dalam Proses Seleksi
Tak sedikit calon santri yang gagal bukan karena kurang mampu, tetapi karena orang tua belum siap melepas.
Baca Juga: Dari Pagi hingga Malam: Sehari di Kehidupan Santri
IFA.id mencatat bahwa banyak pesantren kini mulai melakukan wawancara orang tua sebagai bagian dari proses seleksi. Alasannya sederhana: dukungan keluarga menjadi penentu keberhasilan anak menjalani hidup di pesantren.
Dalam wawancara tersebut, pengasuh pesantren biasanya menanyakan hal-hal seperti:
-
Apakah anak benar-benar ingin mondok?
-
Seberapa besar dukungan keluarga terhadap kehidupan sederhana pesantren?
-
Bagaimana kesiapan orang tua jika anak jarang pulang?
Dari situ, pesantren bisa menilai apakah lingkungan keluarga akan membantu atau justru menghambat semangat belajar anak.
Baca Juga: Transformasi Pesantren: Dari Surau Tradisional ke Smart Boarding
6. Perspektif Santri: “Masuk Pesantren Itu Bukan Sekadar Daftar, Tapi Hijrah”
Dalam penelusuran IFA.id, banyak santri yang menganggap masa seleksi sebagai awal hijrah.
Seorang santri alumni Gontor berkata, “Waktu daftar, saya tidak tahu harus hafal apa. Tapi saya tahu harus siap berubah.”
Kalimat itu menggambarkan esensi dari syarat masuk pesantren: bukan sekadar memenuhi dokumen dan tes, tetapi kesiapan hati untuk meninggalkan kenyamanan dunia luar, menggantinya dengan kehidupan penuh aturan, disiplin, dan keberkahan.
7. Antara Niat dan Kesanggupan