IFA.Id - Dalam pandangan Islam, guru memiliki kedudukan yang amat mulia. Mereka bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu, tetapi juga pembimbing hati yang menuntun murid menuju cahaya kebenaran. Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai guru terbaik bagi umatnya, yang tidak hanya mengajarkan wahyu, tetapi juga menanamkan akhlak yang luhur dalam setiap sanubari sahabatnya.
Islam menempatkan ilmu sebagai cahaya yang menerangi kehidupan, dan guru adalah lentera yang menyalakan cahaya itu dalam jiwa manusia. Tanpa guru, ilmu akan sulit dipahami, bahkan bisa tersesat dalam kesalahpahaman. Karena itu, menghormati guru menjadi bagian dari menghormati ilmu itu sendiri.
Guru bukan hanya pengajar teori, tetapi juga penuntun moral. Dalam setiap nasihatnya, terkandung kebijaksanaan hidup. Seorang guru sejati tidak hanya menginginkan muridnya pandai, tetapi juga berakhlak. Mereka mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kegelapan, dan adab tanpa ilmu adalah kebutaan. Keduanya harus berjalan seiring.
Dalam sejarah Islam, para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali, Imam Syafi’i, dan Imam Malik memiliki rasa hormat luar biasa kepada guru mereka. Imam Syafi’i bahkan tidak membuka lembar kitab di hadapan gurunya tanpa izin, sebagai bentuk adab dan penghormatan. Inilah warisan nilai yang perlu dihidupkan kembali di zaman modern.
Baca Juga: Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami
Di era digital seperti sekarang, banyak orang mencari ilmu lewat layar dan media daring. Namun, peran guru tetap tak tergantikan. Karena guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan penjaga nilai dan pembimbing ruhani yang mampu menyentuh hati. Ilmu yang diberkahi lahir dari hubungan tulus antara guru dan murid.
Seorang guru juga menjadi saksi perjalanan murid menuju kedewasaan. Dari tangan merekalah, generasi dibentuk, akhlak dibina, dan masa depan umat ditentukan. Maka, ketika seorang murid berilmu dan berakhlak, sesungguhnya sebagian pahala itu akan terus mengalir kepada sang guru, bahkan setelah guru itu tiada.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. Maka guru, sebagai penyebar ilmu, adalah bagian dari golongan yang dimuliakan oleh Allah. Mereka adalah penerus tugas para nabi dalam membimbing manusia ke jalan kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” Hadis ini menegaskan betapa tingginya kedudukan guru dalam Islam. Mereka mewarisi misi kenabian: menyebarkan ilmu, menegakkan akhlak, dan membimbing umat menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Baca Juga: Santri Bergerak, Indonesia Bermartabat: Semangat Baru di Hari Santri 2025
Sudah sepantasnya kita sebagai murid, masyarakat, dan umat Islam menghargai jasa para guru. Doa dan penghormatan kepada mereka adalah tanda syukur kita atas ilmu yang telah mereka berikan. Setiap huruf yang kita pahami, setiap amal baik yang kita lakukan, menjadi bukti bahwa ajaran mereka hidup dalam diri kita.
Dengan meneladani akhlak dan kebijaksanaan guru, kita sesungguhnya sedang menapaki jejak Rasulullah ﷺ. Karena sejatinya, guru adalah cermin dari kebaikan yang membawa kita menuju cahaya ilmu, keikhlasan, dan keberkahan yang tak bertepi.