tafaquh

Antara Suara Nurani dan Nafsu Amarah: Menakar Batas Demo Menurut Islam

Senin, 20 Oktober 2025 | 14:39 WIB
Santri bukan sekadar penyuara keadilan, tapi penjaga adab dalam perjuangan. Karena suara nurani harus lahir dari hati yang bersih, bukan dari amarah yang membakar. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Di tengah hiruk-pikuk zaman modern, ketika berita berputar begitu cepat dan opini berseliweran di media sosial, suara santri pun ikut bergema.

Mereka bukan hanya pelantun doa di serambi pesantren, tapi juga pewaris nurani umat yang kadang merasa terpanggil untuk bersuara.

Namun, ketika semangat perjuangan bertemu dengan panasnya amarah, muncullah pertanyaan penting: di mana batas antara suara nurani dan nafsu amarah dalam berdemo menurut Islam?

Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menegakkan kebenaran. Bahkan, amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian dari iman yang hidup.

Baca Juga: Santri dan Tanggung Jawab Sosial: Berdakwah di Tengah Suara Massa

Ketika santri menyuarakan keadilan, menolak kezhaliman, dan membela rakyat kecil, sejatinya mereka sedang menunaikan tanggung jawab moral suara nurani yang berakar pada cinta terhadap kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan; jika tidak mampu, maka dengan lisan; dan jika tidak mampu, maka dengan hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dalam konteks modern, aksi damai atau demonstrasi bisa menjadi bentuk “lisan kolektif” yang menyerukan keadilan  selama dilakukan dengan niat lillah, bukan untuk menciptakan kerusuhan.

Namun, di antara semangat menegakkan kebenaran, ada bahaya yang mengintai: nafsu amarah. Ketika emosi menguasai akal, maka suara dakwah bisa berubah menjadi sorakan benci.

Baca Juga: Demo dalam Pandangan Ulama: Ketika Amar Ma’ruf Harus Tetap Beradab

Di sinilah ujian besar seorang santri bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari meluapkan amarah yang dapat mencederai tujuan mulia.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis bahwa amarah yang tak terkendali adalah pintu setan yang merusak amal.

Maka, ketika santri turun ke jalan, ia bukan hanya membawa spanduk, tapi juga membawa tanggung jawab besar: menjaga hati agar tetap bening, tidak dikotori oleh ego.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB