IFA.id - Di antara aroma tanah pesantren yang lembab selepas hujan, para santri biasa duduk melingkar di serambi mushalla, mendengarkan kisah para ulama dan pejuang agama.
Dari situ mereka belajar, bahwa Islam tidak hanya tentang dzikir dalam keheningan, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial di tengah kehidupan umat.
Ketika masyarakat menghadapi ketidakadilan, kesenjangan, atau kezaliman, muncul pertanyaan besar di hati santri: Apakah kami harus diam?
Santri bukan hanya pelajar kitab kuning. Mereka adalah penjaga nurani bangsa. Dalam sejarah, banyak kiai dan santri yang berdiri di barisan depan perjuangan bukan untuk mencari panggung, tetapi karena iman mereka menuntut tindakan.
Baca Juga: Demo dalam Pandangan Ulama: Ketika Amar Ma’ruf Harus Tetap Beradab
Mereka belajar dari Rasulullah ﷺ bahwa dakwah bukan hanya di mimbar, tetapi juga di jalan, di ladang, di pasar, bahkan di ruang sosial yang bising.
Dalam dunia yang semakin gaduh dengan berbagai isu, santri punya peran istimewa: menjadi penyejuk di tengah panasnya suasana.
Dakwah santri tidak selalu berupa orasi keras. Terkadang ia hadir dalam bentuk ketenangan wajah, kesantunan tutur, dan keteguhan hati dalam menahan amarah.
Ketika santri turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi, mereka sejatinya membawa misi suci — amar ma’ruf nahi munkar. Namun, amar ma’ruf tanpa adab bisa berubah menjadi fitnah, dan nahi munkar tanpa ilmu bisa melahirkan kekacauan.
Baca Juga: Santri Turun ke Jalan: Antara Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Batas Adab Islami
Maka, pesantren selalu mengajarkan keseimbangan: berani bersuara, tapi tetap beradab; tegas pada kebenaran, namun lembut dalam penyampaian.
Islam tidak melarang menyampaikan aspirasi. Justru, Islam mengajarkan agar umat berani berkata benar di hadapan kekuasaan yang zalim itu disebut jihad akbar dalam sabda Rasulullah ﷺ. Namun, ada syarat besar yang sering dilupakan: hikmah.
Hikmah adalah kunci dakwah santri. Ia bukan sekadar cerdas berbicara, tapi pandai menimbang waktu, tempat, dan cara. Santri paham bahwa perubahan sejati lahir dari kesabaran, bukan kemarahan. Dari ketulusan, bukan ego.