Media sosial telah menjadi “jalan raya” baru tempat ribuan demo berlangsung setiap hari demo opini, demo ego, demo kemarahan. Santri digital harus sadar: tangan di keyboard bisa lebih tajam dari batu di jalan.
Oleh karena itu, ulama menyeru agar setiap perjuangan dilakukan dengan dzikir dan fikir.
Kiai Bisri Mustofa pernah berkata: “Kalau kamu ingin mengubah dunia, jangan lupa berdoa sebelum bicara.”
Baca Juga: Berkain Putih dan Berjiwa Merdeka: Potret Santri Indonesia Menyambut Hari Santri 2025
Itulah warisan adab pesantren: perjuangan tanpa doa adalah kesombongan, dan doa tanpa perjuangan adalah kelalaian.
Demo bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk menegakkan kebenaran dengan cara damai dan beradab. Tapi ia bisa berubah menjadi dosa jika dilakukan dengan amarah dan penghinaan.
Ulama mengajarkan keseimbangan: berani bersuara, tapi tetap lembut. Tegas terhadap batil, tapi penuh kasih kepada pelaku.
Santri, dengan ruh pesantrennya, menjadi penjaga keseimbangan itu.
Mereka bukan pendemo yang berteriak, melainkan pendakwah yang meneduhkan.
Karena sejatinya, Islam tidak datang untuk membakar dunia, tetapi untuk meneranginya.
Baca Juga: Dzikir, Doa, dan Dedikasi: Jejak Santri untuk Negeri
Doa Penutup
اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَارْزُقْنَا حِكْمَةً وَحِلْمًا فِي كُلِّ أَمْرٍ
Allāhummaj‘alnā miftāḥan lilkhair, mighlāqan lish-sharr, warzuqnā ḥikmatan wa ḥilman fī kulli amr.
“Ya Allah, jadikanlah kami pembuka pintu kebaikan, penutup segala keburukan, dan karuniakan kami hikmah serta kelembutan dalam setiap urusan.”