IFA.id – Bayangkan suatu pagi di mana matahari terbit dari arah barat. Burung-burung tidak berkicau, dan bumi terasa berat seakan enggan berputar. Tak ada lagi keseimbangan antara waktu, alam, dan manusia.
Pemandangan itu bukan adegan film fiksi, tapi gambaran nyata yang disampaikan Rasulullah SAW tentang tanda besar menjelang kiamat.
IFA.id mengulasnya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan: bahwa akhir dunia bukan tentang kapan, melainkan bagaimana manusia mempersiapkan diri sebelum cahaya itu padam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat hingga banyak kebohongan tersebar, ilmu agama dicabut, dan kebodohan merajalela.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Ustadz Maulana Yusuf, pengajar hadis di Pesantren Darul Ilmi Bandung, hadis ini tidak hanya menggambarkan masa depan, tetapi kondisi yang sedang kita alami.
“Cahaya yang redup itu adalah hati manusia yang kehilangan cahaya ilmu dan kejujuran,” ujarnya kepada IFA.id.
Baca Juga: Makna Gerhana bagi Jiwa Modern: Ketika Langit Menegur dengan Lembut
Tanda-tanda kecil seperti banyaknya fitnah, rusaknya akhlak, dan semakin sedikitnya orang amanah kini bukan lagi wacana — ia hidup di sekitar kita.
Di zaman yang serba cepat, manusia berlomba-lomba mengejar dunia tapi melupakan akhirat.
IFA.id mencatat, banyak tanda kiamat kecil kini terasa nyata:
-
Orang miskin berlomba membangun gedung tinggi (HR. Muslim).
-
Amanah dianggap beban.
-
Orang jahat diangkat jadi pemimpin.
Fenomena sosial ini bukan sekadar krisis moral, tapi tanda zaman kehilangan keseimbangannya.
Menurut Dr. Rafiq Hidayat, sosiolog Islam dari UIN Jakarta, “Ketika manusia mulai lebih menghormati harta daripada nilai, itu artinya kiamat sosial sudah dimulai.”
Ketika tanda-tanda kecil telah lengkap, akan datang tanda-tanda besar yang tak bisa dibendung.
Rasulullah SAW menjelaskan dalam banyak hadis sahih, sepuluh tanda besar itu meliputi: munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa AS, terbitnya matahari dari barat, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, hingga munculnya api besar dari Yaman.
Baca Juga: Antara Sains dan Iman: Menggandeng Astronomi dan Tafsir Gerhana