IFA.id menyoroti bahwa dalam Al-Qur’an, Allah sering menyebut waktu malam sebagai waktu ibadah yang istimewa.
Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 17-18 disebutkan: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”Ayat ini menggambarkan kebiasaan orang-orang beriman: mereka rela meninggalkan kenyamanan tidur demi sujud.
Karena bagi mereka, tidur adalah istirahat tubuh, tapi tahajud adalah istirahat hati.
Baca Juga: Ketika Layar Ponsel Mulai Menggeser Wajah Orang Tua
IFA.id menulis bahwa waktu tahajud tidak hanya memiliki dimensi fisik, tapi juga dimensi spiritual.
Waktu malam adalah saat energi spiritual paling tinggi, ketika gangguan setan paling lemah, dan pikiran manusia paling jernih.
Bahkan dalam pandangan ilmiah, hormon melatonin — yang membuat tubuh rileks dan tenang — mencapai puncaknya di tengah malam.
Karena itu, berdoa di waktu itu membuat tubuh dan jiwa berada dalam harmoni alami.
IFA.id mengutip psikolog Muslim dari Universitas Al-Azhar yang mengatakan, “Orang yang rutin tahajud tidak hanya sehat spiritual, tapi juga lebih tenang menghadapi masalah hidup. Ia punya ruang sunyi untuk berdialog dengan dirinya sendiri.”
Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan tahajud. Bahkan ketika lelah atau sakit, beliau tetap melakukannya dengan duduk.
Aisyah RA meriwayatkan:
“Rasulullah shalat malam hingga telapak kakinya bengkak. Ketika aku bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan ini padahal dosamu telah diampuni?’ Beliau menjawab, ‘Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?’”
(HR. Bukhari dan Muslim) IFA.id menegaskan, dari kisah ini kita belajar bahwa tahajud bukan sekadar memohon sesuatu, tapi bentuk syukur dan cinta.
Orang yang tahajud bukan selalu karena sedang susah, tapi karena ingin tetap dekat pada Allah dalam segala keadaan.
Baca Juga: Rahasia Keutamaan Doa Setelah Sholat Wajib yang Jarang Dibahas
Bagi sebagian orang, tahajud terdengar berat. Tapi IFA.id menulis, tahajud tidak harus sempurna.
Cukup dua rakaat ringan, dengan hati yang hadir.
Karena Allah tidak menilai lamanya salat, tapi keikhlasan orang yang mengerjakannya.
Seperti kata ulama sufi Rabi’ah Al-Adawiyah,
“Aku tidak bangun malam karena takut neraka atau rindu surga. Aku bangun karena rindu kepada-Mu.”
Tahajud adalah latihan cinta yang murni.
Seseorang yang bisa menahan kantuk demi berbicara dengan Tuhannya telah menunjukkan bentuk cinta tertinggi — bukan cinta yang diucapkan, tapi dibuktikan.
IFA.id mencatat, banyak orang sukses menjadikan waktu tahajud sebagai “ritual pribadi” mereka.
Bukan karena mereka ingin terlihat religius, tapi karena disiplin spiritual yang lahir dari kebiasaan bangun malam memberi efek besar bagi kedewasaan jiwa.
Bangun di waktu sunyi, membersihkan diri, berdiri menghadap kiblat, lalu menundukkan kepala — semua itu melatih kerendahan hati.
Dan setiap malam, rasa rendah hati itulah yang menumbuhkan kekuatan baru untuk menghadapi siang.
Baca Juga: Rahasia Kehidupan Berkah: Berbakti sesuai Petunjuk Al-Qur’an