IFA.Id - Stres dan kelelahan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Tuntutan pekerjaan, masalah pribadi, hingga paparan teknologi membuat tubuh dan pikiran sering kali terasa lelah. Namun, tahukah bahwa puasa bisa menjadi salah satu cara alami untuk mengatasi kondisi ini? IFA.id menelusuri berbagai penelitian ilmiah yang membuktikan manfaat puasa dalam menurunkan stres dan mengurangi rasa lelah.
Stres muncul ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak hormon kortisol. Saat puasa, kadar kortisol justru menurun. Hal ini memberi efek menenangkan bagi tubuh dan pikiran. Sebuah studi dari Journal of Nutrition, Health & Aging menemukan bahwa orang yang berpuasa mengalami penurunan signifikan pada hormon stres setelah dua minggu.
IFA.id mencatat bahwa kondisi ini membuat tubuh lebih rileks, emosi lebih stabil, dan beban pikiran terasa lebih ringan
Selain menurunkan kortisol, puasa juga meningkatkan produksi serotonin dan endorfin—dua hormon yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan. Hasilnya, suasana hati lebih positif, rasa cemas berkurang, dan energi mental meningkat.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat yang Mustajab untuk Kedua Orang Tua
Penelitian di Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa praktik puasa intermiten bisa memperbaiki mood secara signifikan, bahkan pada orang yang mengalami gejala depresi ringan
Stres dan kelelahan seringkali diperparah oleh pola tidur yang berantakan. Puasa membantu tubuh mengatur ritme sirkadian atau jam biologis. Dengan pola makan yang lebih teratur, kualitas tidur meningkat. Tubuh pun terasa lebih segar saat bangun pagi.
IFA.id menemukan bahwa banyak orang melaporkan tidur lebih nyenyak saat rutin berpuasa Senin-Kamis atau menjalani pola intermiten.
Kelelahan sering muncul akibat fluktuasi gula darah. Puasa menstabilkan kadar gula darah dengan meningkatkan sensitivitas insulin. Alhasil, tubuh memiliki sumber energi yang lebih konsisten. Energi tidak lagi naik-turun drastis seperti saat mengonsumsi makanan berkalori tinggi secara terus-menerus.
Baca Juga: Benarkah Alkohol Bisa Jadi Obat atau Sekadar Mitos?
Sebuah riset dari Harvard Medical School menyebut bahwa puasa membuat tubuh lebih efisien menggunakan lemak sebagai sumber energi. Inilah sebabnya banyak orang merasa lebih bertenaga meski tidak makan sepanjang hari.
Puasa juga memberi dampak menenangkan pada sistem saraf. Ketika berpuasa, otak menghasilkan protein brain-derived neurotrophic factor (BDNF) yang mendukung fungsi kognitif. Efeknya, daya pikir lebih jernih, fokus meningkat, dan otak lebih tangguh menghadapi stres.
Psikolog kesehatan dari Universitas Indonesia menemukan bahwa mahasiswa yang rutin berpuasa lebih mampu mengendalikan emosi dan tekanan akademis dibandingkan yang tidak berpuasa.
Stres kronis sering berkaitan dengan peradangan dalam tubuh. Menariknya, puasa mampu menurunkan penanda peradangan seperti CRP (C-reactive protein). Hal ini tidak hanya membuat tubuh terasa lebih ringan, tapi juga mengurangi kelelahan akibat penyakit kronis.