Tradisi pesantren di Indonesia menjadi contoh nyata praktik tafaquh. Santri bukan hanya belajar kitab kuning, tetapi juga dibiasakan berakhlak kepada guru, sesama, dan masyarakat.
Baca Juga: Hikmah Sahabat Nabi: Pelajaran Hidup yang Selalu Relevan
Nilai kesederhanaan, kedisiplinan, serta cinta ilmu menjadi bekal mereka. Dari sinilah lahir ulama-ulama Nusantara yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki kearifan dalam membimbing umat. Tafaquh membentuk karakter, bukan hanya kecerdasan.
IFA.id mencatat, banyak ulama menekankan pentingnya niat dalam tafaquh. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddinmengingatkan bahwa ilmu harus dipelajari untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar popularitas atau debat kusir.
Dengan niat yang benar, belajar agama menjadi ibadah yang terus mengalir pahalanya. Bahkan satu ayat yang dipahami dengan benar dan diamalkan bisa lebih berharga daripada banyak ilmu yang hanya berhenti di lisan.
Pada akhirnya, tafaquh adalah jalan panjang yang memadukan akal dan hati. Ia menuntun seorang Muslim untuk tidak hanya pintar, tetapi juga bijak; tidak hanya tahu, tetapi juga mampu mengamalkan.
Baca Juga: Kisah Nabi Yusuf: Ibrah tentang Keteguhan dan Kesabaran
Dalam dunia yang serba cepat ini, tafaquh mengajarkan untuk melambat sejenak, merenungi makna, dan menumbuhkan iman. Sebab ilmu tanpa hati hanyalah kumpulan kata, sementara ilmu yang dipelajari dengan hati adalah cahaya yang menuntun perjalanan hidup menuju Allah.
Baca Juga: 4 Hal Penting Tentang Khutbah Jumat yang Sering Ditanyakan