IFA.id- Bayangkan seorang ulama dari Banten, lahir di sebuah desa kecil, tapi karyanya dijadikan rujukan di Mekkah dan Mesir. Itulah kisah Syekh Nawawi al-Bantani, penulis tafsir Marah Labid atau al-Munir. Sebuah kitab tafsir monumental yang membuktikan bahwa ulama Nusantara mampu memberi kontribusi besar pada dunia Islam.
Syekh Nawawi lahir di Tanara, Banten, pada 1814. Sejak kecil ia dikenal tekun belajar, hingga akhirnya menuntut ilmu ke Mekkah. Di sana ia berguru pada para ulama besar seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Perjalanan panjang ini mengantarkannya menjadi ulama besar yang dijuluki Sayyidul Ulama Hijaz.
Di Mekkah, Nawawi tidak hanya belajar, tetapi juga mengajar. Murid-muridnya datang dari berbagai penjuru dunia Islam. Ia menghabiskan hidupnya menulis lebih dari seratus kitab, salah satunya tafsir *Marah Labid* yang ia tulis sekitar tahun 1887–1890 M.
Mengurai al-Qur’an dengan Metode Tahlili
Tafsir Marah Labid menggunakan metode tahlili, yaitu menafsirkan ayat demi ayat, kata demi kata. Dalam penafsirannya, Nawawi tidak hanya menjelaskan makna ayat, tetapi juga menyertakan:
- Riwayat hadis dan pendapat sahabat
- Analisis kebahasaan (nahwu dan sharaf)
- Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat)
- Munasabah antar ayat
Corak tafsirnya cenderung riwayah (berdasarkan sumber otoritatif), meski sesekali terlihat nuansa sufistik yang lembut. Inilah yang membuat *Marah Labid* mudah dipahami, tetapi tetap mendalam.
Contoh Penafsiran
Dalam menafsirkan QS. al-Baqarah ayat 191–194, misalnya, Nawawi menekankan pentingnya tidak memulai permusuhan. Namun, jika umat Islam ditindas, maka peperangan menjadi kewajiban. Ia menegaskan bahwa penindasan lebih berat daripada pembunuhan. Pesan ini relevan dengan konteks penjajahan, sekaligus tetap universal hingga kini.
Baca Juga: Mengapa R.A. Kartini Terinspirasi Tafsir Shaleh Darat?
Ada beberapa alasan mengapa Marah Labid mendunia:
- Bahasa Arab → Berbeda dengan Shaleh Darat yang menulis dengan Jawa Pegon, Nawawi menulis dalam bahasa Arab. Hal ini membuat kitabnya bisa diakses luas oleh umat Islam di berbagai negeri.
- Kedalaman Ilmu → Kitab ini memadukan antara riwayah klasik dan refleksi kontekstual, menjadikannya rujukan akademik yang bernilai tinggi.
- Diajarkan di Al-Azhar → Hingga kini, tafsir Nawawi masih dipelajari di Universitas Al-Azhar Mesir, sebuah bukti pengakuan dunia internasional terhadap ulama Nusantara.
Elitis tapi Monumental
Meski mendunia, tafsir ini punya sisi elitis. Karena ditulis dalam bahasa Arab, tidak semua masyarakat Indonesia bisa membacanya langsung. Kitab ini lebih banyak beredar di kalangan pesantren dan akademisi. Namun, justru karena itulah ia menjadi jembatan Nusantara dengan dunia Islam global.
Tafsir Marah Labid mengajarkan bahwa karya ilmiah yang kuat akan bertahan lintas zaman. Bagi generasi hari ini, pesan Nawawi relevan dalam dua hal:
1. Pentingnya kedalaman ilmu → jangan berhenti pada bacaan populer, tapi gali sumber otoritatif.
2. Globalisasi ilmu Islam → ulama Nusantara bukan hanya konsumen ilmu, tetapi juga produsen yang diakui dunia.