IFA.id -- Dalam Islam, keimanan kepada Qadha dan Qadar adalah bagian dari rukun iman yang keenam. Keyakinan ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Namun, bagaimana konsep takdir ini bekerja? Apakah manusia masih memiliki kebebasan dalam berusaha? Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang makna Qadha dan Qadar, perbedaannya, serta bagaimana cara mengimani dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Qadha dan Qadar
Apa Itu Qadha?
Qadha adalah ketetapan Allah SWT terhadap segala sesuatu sejak zaman azali (sebelum penciptaan dunia). Semua yang terjadi telah tertulis di Lauhul Mahfuz.
Baca Juga: Tauhid: Kunci Hidup Tenang & Bahagia di Dunia dan Akhirat
Dalil tentang Qadha: Allah SWT berfirman:
"Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)
Apa Itu Qadar?
Qadar adalah pelaksanaan dari ketetapan Allah (Qadha) sesuai dengan waktu dan kondisi yang telah ditentukan.
Dalil tentang Qadar: Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim)
Perbedaan Qadha dan Qadar
Qadha adalah ketetapan Allah yang sudah ditentukan sejak dahulu, sedangkan Qadar adalah realisasi dari ketetapan tersebut yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Baca Juga: Menjelajahi 6 Pilar Keimanan dalam Islam: Rukun Iman secara Lengkap
Qadha bersifat tetap dan sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuz, sedangkan Qadar terjadi sesuai dengan waktu dan kondisi yang telah Allah tentukan.
Bagaimana Cara Beriman kepada Qadha dan Qadar?
Mengimani Qadha dan Qadar mencakup empat tingkatan utama: