Kamis, 4 Juni 2026

Sunnah Salam yang Dilupakan Generasi Modern

- Jumat, 28 November 2025 | 10:53 WIB
Menghidupkan kembali salam menghangatkan hati, menyambung ukhuwah. (Foto/Ilustrasi)
Menghidupkan kembali salam menghangatkan hati, menyambung ukhuwah. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id mencatat bahwa generasi modern mulai jarang menggunakan salam karena beberapa alasan yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan perubahan paradigma.

Pertama, komunikasi digital membuat manusia terbiasa dengan pesan serba cepat. Chat singkat dengan “p”, “bro”, atau “oy” menggeser ruang salam. Ucapan singkat dianggap lebih efisien, padahal salam justru memiliki nilai tambah yang tak tergantikan.

Baca Juga: Adab Mengucapkan Salam yang Sering Terabaikan

Kedua, rasa canggung. Banyak anak muda merasa salam terlalu berat, terlalu formal, atau terlalu religius. Mereka khawatir dianggap sok alim ketika memulai percakapan dengan salam. Inilah salah satu ironi terbesar. Sunnah ringan justru dianggap sebagai beban.

Ketiga, pengaruh lingkungan. Di kantor, sekolah, bahkan pertemanan, jarang terdengar salam. Ketika lingkungan tidak membiasakannya, seseorang pun ragu memulai. Padahal perubahan selalu dimulai dari satu orang yang berani.

IFA.id menilai bahwa hilangnya salam bukan sekadar pergeseran budaya, tetapi pengurangan nilai ibadah dalam kehidupan sehari hari.

Adab Salam yang Sering Tak Diingat Generasi Kini

Nabi Muhammad memberikan panduan jelas tentang adab salam. Panduan ini tidak hanya spiritual, tetapi juga sosial dan penuh etika. IFA.id merangkum beberapa sunnah yang sering diabaikan:

Baca Juga: Mengapa Salam Jadi Simbol Cinta dan Damai?

Pertama, mendahului salam adalah tanda kerendahan hati. Yang muda mendahului yang tua, yang berjalan mendahului yang duduk, yang lebih sedikit mendahului yang lebih banyak. Adab ini mengajarkan bahwa salam adalah layanan sosial, bukan hierarki.

Kedua, menjawab salam adalah kewajiban. Bahkan lebih baik jika jawabannya ditingkatkan. Jika seseorang berkata “Assalamu’alaikum”, maka jawaban terbaik adalah “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”. Inilah bentuk penghargaan terhadap doa yang diberikan.

Ketiga, salam harus diucapkan dengan jelas. Ada kecenderungan orang mengucapkan salam sambil berjalan tanpa menoleh, atau sekadar berbisik karena buru buru. Padahal salam seharusnya diucapkan dengan niat menghadirkan keberkahan.

Keempat, salam tidak terbatas pada ucapan langsung. Dalam surat, pesan teks, dan komunikasi lain, salam tetap dianjurkan sebagai pembuka.

Baca Juga: Keajaiban Salam: Makna Mendalam dalam Islam

Namun yang sering terjadi hari ini, pesan dibuka langsung dengan maksud utama tanpa salam. Ini menghilangkan rasa hangat yang menjadi inti komunikasi Islami.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X