Kamis, 4 Juni 2026

Adab Mengucapkan Salam yang Sering Terabaikan

- Jumat, 28 November 2025 | 09:56 WIB
Adab salam sering terlupakan di tengah dunia modern. IFA.id mengingatkan kembali makna salam sebagai doa kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. (Foto/Ilustrasi)
Adab salam sering terlupakan di tengah dunia modern. IFA.id mengingatkan kembali makna salam sebagai doa kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. (Foto/Ilustrasi)

Ketika seseorang memulai salam, ia sesungguhnya sedang merendahkan hati terlebih dahulu, seolah berkata, “Saya datang dengan damai, bukan dengan keburukan.” IFA.id merangkum poin ini sebagai salah satu inti dari adab Islam: memulai dengan kebaikan sebelum meminta balasan.

Salah satu riwayat yang sering disampaikan adalah anjuran agar yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk, dan kelompok kecil kepada kelompok besar. Pola ini menunjukkan keindahan etika Islam: tidak menunggu untuk dihormati, tetapi selalu memulai penghormatan.

Baca Juga: Ucapan Terima Kasih Jadi Bentuk Syukur, Begini Pandangan Islam

Namun, di sinilah sering terjadi kesalahan kecil yang tampaknya sepele, tetapi berulang: seseorang masuk ruangan tanpa salam, seseorang menyapa tetapi hanya dengan “halo,” atau seseorang merasa cukup mengangkat tangan tanpa kata apa pun.

Bukan berarti sapaan modern itu salah, tetapi ucapan salam mengandung nilai spiritual yang tidak dapat tergantikan.

Adab Salam yang Sering Terlewatkan

IFA.id mencatat beberapa adab penting tentang salam yang mulai jarang dipraktikkan, terutama di lingkungan perkotaan.

Pertama, mengucapkan salam dengan suara yang cukup terdengar. Banyak orang hanya berbisik atau menyebut salam sambil setengah hati. Padahal, Rasulullah menganjurkan salam dengan suara yang lembut namun jelas, agar pesan kedamaian itu benar-benar tersampaikan.

Baca Juga: Budaya Terima Kasih Mulai Luntur, Kiai Ingatkan Pesan Rasul

Kedua, menjawab salam dengan yang lebih baik. Jika seseorang berkata “Assalamu’alaikum,” maka balasan minimal adalah “Wa’alaikumussalam.” Namun yang lebih sempurna adalah menambahkan “warahmatullah” atau “warahmatullahi wabarakatuh.”

IFA.id menggarisbawahi bahwa menjawab salam adalah kewajiban, bukan pilihan. Bahkan seseorang yang sedang sibuk dianjurkan tetap menjawab meskipun singkat.

Ketiga, tidak merasa lebih tinggi sehingga enggan memulai salam. Dalam masyarakat modern, hierarki sosial sering tak terlihat tetapi terasa.

Ada orang yang menunggu orang lain memberi salam duluan karena merasa lebih senior, lebih tua, atau lebih berilmu. Padahal, memulai salam adalah tanda kerendahan hati, bukan tanda kedudukan rendah.

Baca Juga: Mengapa Islam Menekankan Terima Kasih? Ini Penjelasan Ahli

Keempat, mengucapkan salam saat masuk rumah. Ini adalah sunnah yang sangat jarang dilakukan, bahkan di kalangan keluarga muslim. Banyak rumah kehilangan suasana kehangatan hanya karena salam tak lagi mengalir sebagai pembuka kebersamaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X