Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Kurma Dianjurkan Saat Berbuka?

- Kamis, 20 November 2025 | 23:20 WIB
Mengapa Kurma Dianjurkan Saat Berbuka? (Foto/Ilustrasi)
Mengapa Kurma Dianjurkan Saat Berbuka? (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Setiap kali azan Magrib berkumandang pada bulan Ramadan, ada satu momen yang selalu terasa sama di banyak tempat. Meja makan menyiapkan segelas air dan beberapa butir kurma. Tradisi ini begitu melekat, seolah menjadi bahasa universal umat Muslim dalam menyambut detik pertama berbuka. IFA.id mencatat, kebiasaan ini bukan sekadar budaya, tetapi sunnah yang memiliki alasan kuat secara spiritual dan kesehatan.

Rasulullah SAW selalu memulai berbuka dengan kurma. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa beliau menyantap kurma matang jika ada, dan jika tidak tersedia, beliau berbuka dengan air. Kebiasaan ini menegaskan bahwa kurma bukan sekadar pilihan makanan, tetapi bagian dari adab berbuka yang dianjurkan untuk diikuti.

Kurma dianjurkan bukan hanya karena manisnya, tetapi karena sifatnya yang sangat cocok untuk kondisi tubuh setelah berpuasa. Selama lebih dari 12 jam tubuh tidak mendapatkan asupan energi, sehingga membutuhkan sumber gula alami yang mudah dicerna. Kurma menyediakan glukosa yang langsung diserap dan memberi dorongan energi spontan tanpa membebani lambung.

Dalam banyak kajian kesehatan yang diikuti IFA.id, pakar gizi menjelaskan bahwa glukosa dari kurma membuat kadar gula darah naik secara stabil. Ini berbeda dengan minuman manis buatan yang justru dapat menciptakan lonjakan tajam. Karena itu, kurma menjadi pilihan terbaik untuk memulai proses berbuka tanpa risiko pusing atau lemas.

Baca Juga: Rahasia Kurma dalam Tradisi Nabi

Di sisi spiritual, kurma dianggap membawa keberkahan. Buah ini tumbuh di Jazirah Arab, wilayah keras yang menjadi saksi perjalanan para nabi. Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan kurma bukan hanya terkait nutrisi, tetapi berkaitan dengan kedekatan buah ini dengan kehidupan Rasulullah SAW. Mengikuti kebiasaan beliau berarti meneladani sunnah dalam bentuk yang sederhana namun penuh nilai.

IFA.id mendapati bahwa kurma juga membantu tubuh dalam persiapan ibadah setelah berbuka. Banyak umat mengakui bahwa kurma membuat badan terasa ringan, sehingga mereka bisa melanjutkan salat Magrib, tarawih, dan aktivitas ibadah lainnya tanpa rasa berat. Ini menunjukkan betapa tepatnya pemilihan kurma sebagai makanan awal berbuka.

Kurma juga kaya serat. Serat ini membantu mengaktifkan kembali sistem pencernaan setelah berjam-jam beristirahat. Tubuh tidak kaget dan tidak perlu bekerja secara tiba-tiba, sehingga risiko kembung atau sakit perut menjadi lebih kecil. Keseimbangan nutrisi kurma menjadikannya makanan pembuka yang aman.

Selain itu, kurma membawa pesan tentang kesederhanaan. IFA.id melihat bahwa meskipun kini banyak menu berbuka yang mewah, sunnah tetap mengajarkan agar berbuka dengan sesuatu yang ringan dan seperlunya. Kurma menjadi simbol bahwa berbuka bukan tentang memuaskan nafsu makan, tetapi menyambut nikmat Allah dengan penuh syukur.

Baca Juga: Tips Memilih Restoran Halal Saat Traveling

Dalam banyak keluarga, kurma juga menjadi simbol kebersamaan. Satu wadah kecil kurma dapat dinikmati semua anggota keluarga sebelum makanan utama disajikan. Tradisi ini memperkuat suasana hangat dan menambah nilai kebajikan di meja makan.

Perlu juga dipahami bahwa kurma memiliki keunikan sebagai buah yang tidak cepat rusak. Ini membuatnya cocok dibawa safar dan disimpan dalam jangka panjang. Pada masa Nabi, ini menjadi alasan praktis bagi para sahabat untuk mengonsumsinya saat perjalanan jauh. Kemudahannya ini juga turut memperkuat kedudukannya sebagai makanan berbuka.

Kurma juga diyakini membantu menjaga kestabilan emosi setelah seharian menahan lapar dan haus. Banyak orang merasa lebih tenang dan nyaman usai memakan beberapa butir kurma. Menurut pakar, hal ini dipengaruhi oleh kombinasi gula alami, magnesium, dan kalium yang menenangkan sistem saraf.

IFA.id juga memperoleh catatan bahwa kurma membantu mengurangi keinginan untuk makan berlebihan ketika makanan utama datang. Dengan sedikit energi yang masuk, tubuh merasa cukup stabil sehingga nafsu makan tidak meledak. Ini selaras dengan adab berbuka yang menekankan moderasi, bukan melampiaskan rasa lapar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X