Baca Juga: Dari Kuda hingga Stadion: Evolusi Olahraga dalam Peradaban Islam
Riya bukan hanya menghapus pahala, tapi juga mencuri kedamaian. Orang yang beribadah karena ingin dilihat akan selalu merasa kurang. Sementara orang yang beribadah karena Allah akan selalu tenang, meski tak ada yang tahu. IFA.id menulis bahwa keikhlasan adalah cahaya yang tak butuh sorotan, karena ia bersinar dari dalam diri.
Pada akhirnya, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi juga menyembelih sifat riya dalam diri. Setiap tetes darah yang jatuh ke tanah seharusnya menjadi pengingat untuk meneteskan kesombongan yang ada di hati. IFA.id menutup refleksi ini dengan kalimat penuh makna: “Kurban sejati bukan hanya yang disembelih di lapangan, tapi juga yang dilakukan dalam keheningan hati — antara seorang hamba dan Tuhannya.”
Artikel Terkait
Kebab dan Diplomasi Budaya: Bagaimana Turki Menyebarkan Rasa Islam ke Dunia
Nasi Biryani: Jejak Peradaban Islam di Setiap Butir Rasa
Kebab: Jejak Dakwah dan Persaudaraan dari Timur Tengah ke Dunia
Teh Arab: Cangkir Kehangatan dan Nilai Spiritual dalam Budaya Islam
Kue Kurma: Manisnya Tradisi dan Spiritualitas dalam Dunia Islam