Bagi pesantren salaf, kemampuan membaca kitab kuning tanpa harakat adalah “gerbang awal” menuju dunia santri sejati.
Meski banyak calon santri masih di tingkat SMP, pesantren biasanya menilai apakah calon murid memiliki dasar kemampuan bahasa Arab, terutama dalam struktur kalimat (nahwu) dan perubahan kata (shorof).
Coba luangkan waktu belajar dasar-dasar ini sebelum ujian. Banyak video pembelajaran gratis di YouTube dari ustaz muda pesantren yang bisa diikuti.
Belajar satu jam sehari saja sudah cukup membantu agar saat ujian nanti tidak benar-benar buta huruf Arab gundul.
Baca Juga: Pesantren dan Moderasi Beragama: Menyemai Damai dari Lingkungan Ngaji
Seperti kata seorang ustaz di Pesantren Tebuireng, “Calon santri yang sudah mengenal huruf Arab bukan cuma lebih mudah belajar, tapi juga lebih cepat beradaptasi dengan dunia pondok.”
3. Asah Kemampuan Bahasa dan Logika Dasar
Untuk pesantren modern, kemampuan berpikir logis, berbahasa, dan berhitung sering diuji dalam bentuk soal tertulis.
IFA.id menemukan bahwa sekitar 70% pesantren modern kini menambahkan tes potensi akademik dan bahasa (Arab/Inggris) dalam ujian masuk.
Maka, biasakan diri dengan soal-soal umum seperti sinonim, antonim, logika numerik, dan pemahaman bacaan.
Baca Juga: Perempuan Santri: Kiprah, Tantangan, dan Citra Baru di Dunia Pendidikan Islam
Tak perlu belajar seperti ujian nasional. Cukup latih kemampuan berpikir cepat dan terstruktur. Ingat, pesantren ingin melihat cara berpikir santri, bukan sekadar hafalan angka.
4. Latih Hafalan dan Tajwid Al-Qur’an
Banyak calon santri gagal bukan karena kurang pintar, tapi karena terbata-bata membaca Al-Qur’an.
Setiap pesantren punya standar bacaan tertentu, terutama dalam tajwid dan kelancaran. Ada pula yang menambahkan hafalan minimal beberapa surat pendek.
Artikel Terkait
Gontor Indonesia: Pesantren Dunia yang Melahirkan Pemimpin Bangsa
Santri Zaman Now: Antara Kitab Kuning dan Dunia Digital