IFA.id - melihat bahwa budaya berpakaian di pesantren bukan sekadar seragam religius, melainkan bentuk disiplin batin. Ia mengajarkan bahwa penampilan adalah cermin hati, dan kesopanan adalah bahasa keindahan yang sejati.
Pesantren dikenal sebagai tempat di mana kesederhanaan bukan hanya diajarkan, tapi dihidupkan. Sejak awal, para kiai menanamkan nilai bahwa pakaian bukan alat untuk pamer, melainkan sarana menjaga harga diri dan kehormatan.
Seorang santri tidak diukur dari merek bajunya, tapi dari kebersihan, kerapian, dan adab saat mengenakannya. Sarung, baju koko, atau gamis sederhana menjadi identitas yang penuh makna. Kesederhanaan ini membentuk karakter tawadhu’, menjauhkan diri dari kesombongan dunia.
IFA.id mencatat, banyak kiai yang mencontohkan dengan tindakan. Mereka berpakaian bersih namun tak berlebihan.
Baca Juga: Budaya Taqarrub: Malam-Malam Dzikir dan Tahajud Santri
Bahkan, sebagian mengenakan baju tambalan sebagai simbol rendah hati. Dari sanalah santri belajar bahwa nilai sejati manusia tidak ditentukan oleh busana, tapi oleh niat dan amalnya.
Di pesantren, berpakaian bukan hanya soal menutup aurat, tapi juga menjaga adab terhadap ilmu, guru, dan sesama. Santri diajarkan untuk selalu berpakaian sopan di hadapan kiai dan ustaz, tidak memakai pakaian ketat, mencolok, atau berlebihan.
Seorang santri yang mengenakan sarung dengan baik, menutup kepala dengan peci, dan memakai baju bersih, sejatinya sedang berlatih mengatur hatinya. Karena pakaian yang rapi melatih keteraturan pikiran, dan kesopanan lahiriah menumbuhkan ketenangan batin.
IFA.id mengutip pepatah pesantren: “Sopo sing ngajeni, bakal di ajeni.” (Siapa yang menghormati, akan dihormati). Etika berpakaian adalah bagian dari menghormati ilmu dan orang yang memberi ilmu.
Baca Juga: Tradisi Maulid di Pesantren: Pesta Ruhani yang Menyentuh Hati
Dalam sejarah pesantren, pakaian juga menjadi simbol tanggung jawab. Ketika seorang santri sudah menyelesaikan pengajiannya dan diangkat menjadi ustaz, ia sering diberi sorban atau jubah oleh kiainya.
Sorban itu bukan sekadar kain panjang, tapi tanda bahwa ilmu yang dibawa harus dijaga dengan akhlak.
IFA.id mencatat tradisi ini masih lestari di banyak pesantren tua di Jawa, Madura, dan Sumatera. Ketika seorang kiai memberikan jubah, ia biasanya berpesan:
“Iki dudu kanggo gaya, tapi kanggo ngelingke nek awakmu kudu dadi tuladha.”(Ini bukan untuk bergaya, tapi pengingat agar engkau menjadi teladan.)
Artikel Terkait
Tahajud: Ibadah Rahasia Para Pemenang Dunia dan Akhirat
Ketika Dunia Terlelap, Langit Justru Terbuka: Keajaiban Doa Tahajud
Tenang di Tengah Gelap: Tahajud Sebagai Terapi Jiwa dalam Pandangan Islam