Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Dunia Sibuk, Surga Justru Ada di Panggilan Ibu

- Selasa, 14 Oktober 2025 | 04:49 WIB
Ketika Dunia Sibuk, Surga Justru Ada di Panggilan Ibu (Foto/Ilustrasi)
Ketika Dunia Sibuk, Surga Justru Ada di Panggilan Ibu (Foto/Ilustrasi)

IFA.id – Dunia kini bergerak begitu cepat. Semua orang berlari mengejar waktu, karier, dan pencapaian. Namun di tengah kesibukan itu, ada satu suara yang sering diabaikan — lembut, penuh doa, namun perlahan menghilang di antara notifikasi dan panggilan kerja: panggilan seorang ibu. Dalam Islam, panggilan itu bukan sekadar sapaan, tapi pintu menuju surga.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasa’i). Kalimat singkat ini mengandung makna yang luas: bahwa ridha Allah terletak pada ridha ibu, dan setiap langkah yang menghormatinya adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. IFA.id mencatat, tidak ada ibadah yang sebanding dengan bakti kepada ibu, karena dari rahimnyalah kehidupan bermula, dan dari doanya keberkahan mengalir.

Ibu adalah madrasah pertama bagi setiap anak. Dari pelukannya lahir kasih, dari lisannya lahir nasihat, dan dari doanya lahir keberkahan hidup. Namun sayangnya, semakin modern manusia, semakin jauh pula jarak batin antara anak dan ibunya. Banyak yang sukses di mata dunia, tapi gagal menjaga hatinya yang dulu bergetar ketika dipanggil “Nak” untuk pertama kali.

IFA.id mencatat bahwa Islam tidak hanya mengajarkan untuk menghormati ibu, tetapi juga mengutamakan panggilannya di atas segalanya. Dalam sebuah hadis, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapa yang paling berhak mendapatkan bakti terbaikku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Lalu sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ditanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah kembali menjawab, “Ibumu.” Baru pada yang keempat beliau berkata, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: Berbakti Tanpa Batas: Cara Islam Mengajarkan Cinta yang Tak Lekang Waktu

Betapa besar cinta Islam kepada sosok ibu. Dalam ajaran itu, ibu disebut tiga kali lebih dahulu bukan karena ayah tak penting, tapi karena pengorbanan ibu tak terukur. Ia mengandung dalam kelemahan, melahirkan dengan rasa sakit, menyusui dengan cinta, dan mendoakan tanpa pamrih. Dan semua itu sering dilupakan hanya karena kesibukan yang dianggap lebih penting dari sekadar menanyakan kabar.

Dalam kesunyian rumah tua di kampung, ada banyak ibu yang menunggu telepon dari anaknya. Mereka tak minta uang, tak minta hadiah, hanya ingin mendengar suara yang dulu mereka gendong. IFA.id menulis, banyak anak yang menyesal ketika waktu sudah terlambat — ketika panggilan “Nak” tak lagi terdengar, dan hanya batu nisan yang menjawab salamnya. Padahal, satu sapaan kecil bisa menjadi amal besar di sisi Allah.

Bakti kepada ibu tidak berhenti ketika ia meninggal dunia. Islam mengajarkan bahwa doa anak yang saleh adalah amal jariyah bagi kedua orang tua. Maka, menyebut nama ibu dalam doa adalah tanda cinta yang tak pernah mati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seseorang di surga, lalu orang itu berkata, ‘Dari mana aku mendapatkan ini?’ Allah menjawab, ‘Dari doa anakmu untukmu.’” (HR. Ahmad).

Bakti juga berarti menjaga warisan nilai yang ditanamkan oleh ibu. Kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang yang ia ajarkan adalah bentuk harta spiritual yang nilainya jauh lebih tinggi dari emas. IFA.id mencatat, banyak tokoh besar dalam sejarah Islam yang menapak sukses bukan karena kecerdasan semata, tetapi karena doa dan didikan seorang ibu yang penuh keikhlasan.

Baca Juga: Berbagi Itu Menyembuhkan: Nilai Spiritual yang Terlupakan

Di era sibuk dan penuh ambisi ini, Islam justru mengajak manusia untuk berhenti sejenak — menoleh ke rumah, menatap wajah ibu, dan menjawab panggilannya dengan lembut. Sebab, bisa jadi kesuksesan yang dicari di luar sana sebenarnya telah lama menunggu di dalam rumah. Surga, kata Rasulullah SAW, ada di bawah telapak kakinya — dan tidak ada jalan pintas menuju ridha Allah tanpa melewati ridha ibu.

Maka, ketika dunia terasa terlalu bising dan arah hidup tampak kabur, dengarkan panggilan itu lagi. “Nak…” — suara yang sederhana, tapi penuh makna. IFA.id mengingatkan: jangan biarkan kesibukan menutup jalan menuju surga. Sebab, bisa jadi ridha ibu yang kita abaikan hari ini adalah doa yang paling kita butuhkan esok.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X