Baca Juga: Ketika Kebaikan Menular: Menolong Sesama Sebagai Amal Jariyah
“Virtual reality bukan pengganti umroh, tapi latihan spiritual,” kata Dr. Nuraini Fadilah, peneliti teknologi syariah di ITB.
“Tujuannya agar mereka yang belum mampu berangkat tetap bisa merasakan kedekatan dengan Baitullah.”
IFA.id menulis, batas ruang bisa dihapus, tapi kehadiran hati tetap jadi syarat utama diterimanya ibadah.
Di balik semua kemudahan digital, inti ibadah tetap satu: niat dan keikhlasan.
Teknologi bisa membantu logistik dan informasi, tapi tidak bisa menggantikan rasa tunduk di depan Ka’bah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ke depan, teknologi akan semakin terlibat dalam perjalanan spiritual.
Arab Saudi tengah mengembangkan sistem AI Pilgrim Guidance yang membantu jamaah menemukan lokasi ibadah, restoran halal, hingga jadwal doa otomatis berbasis posisi GPS.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat agar Dimudahkan Menerima Ujian Hidup
Namun, bagi umat Islam, yang paling penting bukanlah seberapa canggih sistemnya, tapi seberapa dalam maknanya.
IFA.id menutup artikel ini dengan renungan:
“Di masa depan, umroh mungkin dimulai lewat layar digital,
tapi keberkahannya tetap turun dari langit — kepada hati yang tunduk sepenuhnya.”
Dan mungkin, kata IFA.id, puncak umroh digital bukan ketika kita melihat Ka’bah lewat kamera, tapi ketika hati kita benar-benar terhubung dengan-Nya tanpa jeda sinyal.
Artikel Terkait
Momen Lebaran, Anak Yatim Dapat Santunan Berlimpah
Kisah Inspiratif: Anak Yatim Jadi Hafidz Qur’an Cilik
Solidaritas Sosial, Mahasiswa Galang Dana untuk Anak Yatim
Kisah Mualaf Bertato: Haruskah Menghapusnya?
Taubat dari Tato: Langkah Spiritual Menghapus Jejak Masa Lalu