Jumat, 17 Juli 2026

Pacaran Islami, Adakah? Menyikapi Fenomena Anak Muda Muslim

- Sabtu, 13 September 2025 | 12:18 WIB
kebingungan dan pencarian jawaban di tengah modernitas. Di satu sisi, ada nilai-nilai tradisional yang diwakili oleh masjid. Di sisi lain, ada kehidupan perkotaan yang modern dan serba cepat.  (Foto/ilustrasi)
kebingungan dan pencarian jawaban di tengah modernitas. Di satu sisi, ada nilai-nilai tradisional yang diwakili oleh masjid. Di sisi lain, ada kehidupan perkotaan yang modern dan serba cepat. (Foto/ilustrasi)

 

 

IFA.id - Fenomena pacaran di kalangan anak muda Muslim telah menjadi hal yang tidak asing lagi. Istilah “pacaran Islami” pun sering muncul sebagai upaya membenarkan sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan cara yang dianggap lebih sopan.

Seperti menjaga komunikasi, membatasi pertemuan, atau menekankan niat serius menuju pernikahan.

Namun, timbul pertanyaan mendasar: benarkah ada yang disebut pacaran Islami? Ataukah istilah tersebut hanyalah pembungkus modern untuk menormalisasi budaya pacaran yang sebenarnya tidak dikenal dalam syariat Islam?


Dalam Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram diatur dengan ketat untuk menjaga kehormatan dan kesucian. Pacaran dalam bentuk apa pun berpotensi mendekatkan pada zina, baik zina hati, pandangan, maupun perbuatan.

Baca Juga: Cinta dalam Islam: Jalan Halal Menuju Pernikahan Tanpa Pacaran

Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Dari ayat ini, kita memahami bahwa bukan hanya zina yang dilarang, tetapi semua jalan menuju zina termasuk pacaran yang penuh risiko fitnah.


Sebagian anak muda berusaha menghalalkan pacaran dengan menambahkan label Islami, misalnya dengan menyisipkan doa, menghindari sentuhan, atau berdalih untuk saling mengenal lebih jauh.

Namun, para ulama menegaskan bahwa Islam tidak mengenal istilah pacaran Islami. Justru, Islam telah memberikan jalan yang jelas, yaitu melalui proses ta’aruf, khitbah, dan kemudian pernikahan.

Baca Juga: Mengapa Pacaran Dilarang dalam Islam? Menyingkap Hikmah di Baliknya

Jalan yang ditunjukkan Islam ini jauh lebih terhormat, menjaga kesucian kedua belah pihak, dan mendatangkan keberkahan.


Pacaran, meskipun dengan embel-embel Islami, tetap membuka celah syahwat dan godaan setan. Hubungan intens yang terjadi di luar ikatan pernikahan sering kali menjerumuskan pada perasaan berlebih, pertemuan berdua, hingga akhirnya melanggar batas-batas agama.

Sejarah membuktikan bahwa godaan dalam hubungan semacam ini sangat besar, dan jarang ada yang benar-benar bisa menjaga diri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X