IFA.id - Rizki Ihsanudin, dulu santri Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Jawa Barat. Berbekal ketekunan belajar, rutin tadarus, dan selalu berdoa maka dia berhasil melanjutkan studinya di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Perjalanan Rizki Ihsanudin menjadi bukti bahwa ilmu agama dan pendidikan akademik dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan membentuk pribadi tangguh. Dia juga menjadi bukti jika pesantren bukanlah tembok tebal untuk meraih kesuksesan. Pondok justru menjadi jalan mulus meraih mimpi.
Kisahnya menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda yang bermimpi menyeimbangkan kedua ilmu agama dan pendidikan akademik. Rizki juga sudah membuktikan bahwa dengan tekad dan keyakinan, tak ada batasan untuk meraih prestasi di perguruan tinggi ternama.
Keputusan Rizki untuk mondok di Pondok Pesantren Al-Muhajirin bermula dari pengalamannya saat SMP yang juga dihabiskan di pesantren di Karawang. Setelah lulus, ia ingin mencoba lingkungan baru dan akhirnya memilih Al-Muhajirin sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikannya.
Sejak kecil, Rizki telah bercita-cita masuk UNS. Setiap kali mudik, ia selalu melewati kampus tersebut, dan lokasinya yang dekat dengan rumah neneknya semakin menguatkan tekadnya untuk berkuliah di sana.
Dalam perjalanan akademiknya, sosok yang paling menginspirasi Rizki adalah ibunya. Dukungan dan motivasi dari sang ibu menjadi pendorong utama dalam meraih kesuksesan untuk lolos di perguruan tinggi negeri idamannya.
Proses Belajar dan Pengalaman
Selama mondok, Rizki menerapkan keseimbangan antara belajar, mengaji, dan bermain. Ia memanfaatkan waktu senggangnya untuk menghafal dan belajar, namun juga tidak melupakan pentingnya istirahat dan hiburan agar tidak mengalami kejenuhan.
Salah satu tantangan terbesar di UNS adalah tugas laporan praktikum (laprak) yang sangat banyak. Beberapa harus ditulis tangan, sementara yang lain diketik. Tantangan semakin besar ketika jadwal laprak berbenturan dengan kegiatan kampus seperti kepanitiaan.
Untuk menghadapi tekanan akademik yang tinggi, Rizki banyak berdoa dan mengurangi waktu tidurnya agar dapat menyelesaikan semua tugas tepat waktu.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Rizki adalah saat harus menyelesaikan empat laporan praktikum dalam dua bulan. Ia harus tidur pukul 02.30 dan bangun pukul 05.00 untuk mengikuti kelas pukul 07.00. Dalam seminggu, ia menghadapi hingga 13 deadline tugas yang mengasah ketahanan mental dan manajemen waktunya.
Peran Pondok Pesantren dalam Kesuksesan
Berkah dari para kiayi, terutama Syaikhuna Prof Dr KH Abun Bunyamin, menjadi faktor utama dalam perjalanan akademik Rizki. Pendidikan di pesantren tidak hanya membentuk karakternya, tetapi juga memberikan keberkahan dalam perjalanan studinya.
Selama mondok, Rizki menerapkan kebiasaan tadarus minimal dua halaman per hari, berzikir, dan berdoa setelah sholat. Nilai-nilai ini tetap ia pegang teguh selama berkuliah, termasuk dalam menjaga batasan diri di lingkungan kampus.
Bagi Rizki, agama memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan menuju kesuksesan. Ia meyakini bahwa Allah selalu membimbingnya dan memberikan jalan terbaik dalam hidupnya.
Artikel Terkait
Pesan Haru Santri untuk Prabowo karena Makan Bergizi Gratis
Momen Bos Energi Terbarukan Asal Singapura Dr. Muhammad Ishaq Datang ke Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta
TK Al-Muhajirin Purwakarta Gelar Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Perjalanan Inspiratif Lovita Kostia Sundawa: Dari Pondok Pesantren Al-Muhajirin ke Universitas Indonesia