IFA.id - Tren kuliner halal di Indonesia saat ini menunjukkan potensi luar biasa sebagai kekuatan ekonomi kreatif dan alat ekspansi global. Banyak pelaku usaha kini menyadari bahwa sertifikasi halal bukan beban, melainkan tiket emas ke pasar internasional.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa sertifikat halal adalah pintu masuk kuliner Indonesia ke pasar negara mayoritas Muslim. Ia menjelaskan bahwa sertifikasi bukan “rintangan rumit”, melainkan peluang agar produk lokal mampu bersaing di pasar global.
Namun, masih terdapat hambatan berat di lapangan. Wakil Ketua KADIN Syariah, Angga Adinegoro, mengungkapkan bahwa biaya sertifikasi dianggap terlalu mahal oleh banyak UMKM, ditambah dengan minimnya edukasi tentang pentingnya sistem jaminan produk halal.
Baca Juga: Ragam Halal Kuliner Dunia di Ibu Kota Inggris
Untuk mengatasi hambatan ini, BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) menetapkan target ambisius: 3,5 juta UMKM kuliner harus tersertifikasi sepanjang 2025, dari total 66 juta UMKM nasional—yang saat ini baru 2,1 juta yang telah tersertifikasi.
Baca Juga: Kuliner Halal: Menggali Kelezatan yang Aman dan Sesuai Syariah
Agar target ini tercapai dan dampaknya berkelanjutan, Kemenekraf bekerja sama dengan Islamic Chef & Culinary of Indonesia (ICCI) untuk membangun ekosistem kuliner halal yang kuat secara global. ICCI bertindak sebagai "duta" halal, dengan jaringan dalam dan luar negeri melalui WICS.
Baca Juga: Teknologi dan Wisata Halal: Sinergi Inovasi dan Kenyamanan Wisata Muslim
Selain itu, upaya nasional turut didukung oleh diplomasi dan branding halal Indonesia. Menteri Ekonomi Kreatif juga menyampaikan bahwa Indonesia siap menjadi pusat global gaya hidup halal; dukungan seperti digitalisasi, sistem pembayaran modern, serta branding UMKM telah diintensifkan untuk memperluas akses ke pasar global.
Baca Juga: Gen Z & Wisata Halal
Kuliner halal Indonesia sedang memasuki era emas — dengan sertifikasi sebagai fondasi, dan kolaborasi lintas lembaga sebagai pendorong. Bila hambatan seperti edukasi dan biaya bisa diatasi, potensi UMKM menguasai peta ekonomi kreatif global semakin terbuka lebar.