Psikologi Ketenangan dalam Berbagi dengan Hewan
Selain aspek spiritual, psikologi modern juga menemukan korelasi antara tindakan memberi dan ketenangan batin. Memberi makan hewan, khususnya hewan liar, memunculkan hormon oksitosin hormon yang membuat seseorang merasa tenang dan bahagia.
Menurut psikolog dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Rahardiani, tindakan sederhana seperti memberi makan kucing bisa menurunkan stres dan meningkatkan empati sosial.
“Memberi makan kucing menciptakan rasa keterhubungan dengan makhluk hidup lain. Itu memicu rasa syukur dan empati yang menenangkan jiwa,” jelasnya kepada IFA.id.
Jadi, selain menjadi ladang pahala, memberi makan kucing juga menjadi terapi alami bagi jiwa. Tak heran, banyak orang yang awalnya memberi makan karena kasihan, lama-lama justru merasa “disembuhkan” oleh kucing yang mereka beri makan.
Baca Juga: Dari Dendam ke Doa: Transformasi Hati yang Diajarkan Islam
Mengubah Nasi Sisa Jadi Kebaikan
Setiap rumah seringkali punya nasi sisa. Daripada dibuang ke tempat sampah, mengapa tidak disalurkan menjadi sedekah kecil? Nasi sisa bisa dicampur dengan ikan rebus atau potongan tempe, lalu diletakkan di tempat yang aman agar bisa dimakan kucing liar.
IFA.id menekankan pentingnya kesadaran ini. Kebaikan tidak harus dimulai dengan uang jutaan rupiah. Bahkan nasi sisa pun bisa menjadi jembatan menuju surga jika niatnya ikhlas.
“Sedekah bukan soal nominal, tapi niat. Nasi sisa yang disalurkan dengan niat memberi makan makhluk Allah bisa lebih bernilai dari uang sejuta yang diberikan karena riya,” ujar Ustaz Yusuf Mansur dalam salah satu kajiannya yang dikutip IFA.id.
Kucing dalam Pandangan Ulama
Ulama besar Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa memberi makan hewan, termasuk kucing, termasuk amal kebaikan yang dianjurkan. Sebaliknya, menyakiti atau mengabaikan hewan yang kelaparan adalah dosa besar.
Baca Juga: Saat Sulit Memaafkan: Jalan Panjang Menuju Kedamaian Jiwa
Hal ini ditegaskan pula dalam hadis terkenal tentang seorang wanita yang disiksa di neraka karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan dan tidak melepaskannya mencari makanan sendiri.
Kisah ini menjadi pengingat keras bahwa kucing bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan makhluk yang punya hak untuk hidup dan kenyang. Maka memberi makan mereka, sekecil apa pun, berarti menunaikan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.