Misalnya, larangan perempuan berpendidikan tinggi atau bekerja di ruang publik. Padahal sejarah Islam menunjukkan hal sebaliknya.
Lihatlah sosok Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW, seorang pengusaha sukses yang dikenal jujur dan mandiri. Ia menjadi teladan bahwa perempuan bisa berperan besar dalam ekonomi dan sosial, tanpa kehilangan kehormatan agamanya.
Baca Juga: Guru Sebagai Jalan Pahala: Mengajar dan Belajar dalam Timbangan Ibadah
Atau Aisyah ra., salah satu ulama perempuan terkemuka yang meriwayatkan lebih dari dua ribu hadis. Ia menjadi sumber ilmu bagi banyak sahabat laki-laki. Fakta sejarah ini membantah klaim bahwa Islam menutup ruang bagi perempuan untuk berilmu atau berperan publik.
Dengan demikian, kesenjangan gender yang terjadi bukanlah produk ajaran Islam, melainkan hasil bias sosial yang turun-temurun.
Gerakan Kesetaraan: Dari Akademik ke Aksi Nyata
Di berbagai negara Muslim, muncul gelombang baru yang menafsirkan Islam dengan pendekatan keadilan sosial. IFA.id menemukan, gerakan ini tak hanya muncul di kampus atau forum akademik, tapi juga di pesantren dan komunitas lokal.
Salah satu contoh inspiratif datang dari Pesantren Darus Sholihin di Yogyakarta, yang mengembangkan kurikulum “Fiqih Perempuan”.
Baca Juga: Adab Sebelum Ilmu: Jalan Menuju Keberkahan Belajar yang Hakiki
Program ini mengajak santri untuk memahami ayat dan hadis tentang perempuan dengan perspektif kontekstual, bukan tekstual semata. Hasilnya? Banyak santriwati kini menjadi pendakwah aktif di masyarakat, mengajarkan Islam yang ramah dan adil gender.
Di luar negeri, muncul pula gerakan seperti Musawah di Malaysia, jaringan global yang memperjuangkan keadilan gender dalam keluarga Muslim. Mereka menafsirkan hukum keluarga Islam dengan prinsip maqasid syariah tujuan syariat: menjaga keadilan, martabat, dan kemaslahatan manusia.
Ketika Kesetaraan Bukan Ancaman, Tapi Keseimbangan
Sebagian orang masih khawatir bahwa kesetaraan gender bisa “mengancam” nilai-nilai Islam. Tapi jika ditelusuri lebih dalam, Islam tidak pernah menolak kesetaraan; Islam justru menekankan keseimbangan peran.
Kesetaraan tidak berarti meniadakan perbedaan biologis atau peran sosial, melainkan memastikan tidak ada diskriminasidalam hak, akses, dan penghargaan. Dalam pandangan IFA.id, inilah bentuk keadilan hakiki yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Baca Juga: Doa Setelah Salat Jumat: Saat Hati dan Langit Saling Terhubung