IFA.id - Pernahkah terlihat seseorang yang tampak tenang hanya karena mengelus kucing? Gerakannya lembut, matanya penuh kasih, dan ada kedamaian di wajahnya.
Di banyak rumah muslim, kucing bukan hanya hewan peliharaan, melainkan “tamu istimewa” yang dihormati. Tapi, mengapa Islam begitu istimewa memandang kucing? Apakah hanya karena Nabi Muhammad SAW mencintainya, atau ada alasan ilmiah di balik itu?
IFA.id merangkum perjalanan menarik antara hadis dan sains tentang hewan lembut ini yang ternyata bukan hanya menggemaskan, tapi juga membawa pelajaran spiritual mendalam.
Kucing dalam Pandangan Rasulullah SAW
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah sahabat Nabi yang terkenal sangat mencintai kucing bahwa Rasulullah SAW memperlakukan kucing dengan kasih sayang luar biasa.
Baca Juga: Kucing dan Kebersihan: Pelajaran Hidup dari Sunnah Rasul
Salah satu kisah paling populer adalah ketika beliau hendak mengambil jubahnya, namun mendapati seekor kucing sedang tertidur di atas lengan baju itu. Daripada membangunkannya, beliau justru memotong bagian kain yang ditiduri si kucing agar tidak mengganggunya (HR. Al-Bukhari).
Dari sini lahir satu nilai besar: rahmah, kasih sayang terhadap makhluk Allah, sekecil apa pun mereka.
IFA.id mencatat, dalam banyak literatur hadis, kucing bahkan disebut sebagai hewan suci. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Kucing tidak najis. Ia termasuk hewan yang sering berkeliling di sekeliling kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Artinya, Islam tidak melihat kucing sebagai sumber najis, melainkan makhluk bersih yang layak hidup berdampingan dengan manusia.
Baca Juga: Panduan Islami Merawat Kucing agar Mendapat Keberkahan
Makna Spiritualitas di Balik Kasih Sayang terhadap Kucing
Kasih sayang pada hewan bukan hanya soal empati sosial, tapi juga bagian dari ibadah batin. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW pernah berkata tentang seorang wanita yang disiksa karena menelantarkan seekor kucing hingga mati kelaparan. Beliau bersabda: