Baca Juga: Cahaya di Sepertiga Malam: Ketika Tahajud Menjadi Jalan Pulang bagi Hati yang Hilang
Doa Bersama dalam Kerja Bersama
Salah satu keunikan di pesantren adalah kebiasaan memulai kegiatan bersama dengan doa. Sebelum kerja bakti dimulai, seorang ustadz atau santri senior biasanya memimpin doa seperti ini:
Allahumma barik lana fi waqtina wa sa’yina, waj’al ‘amalana hadza fi sabilika wa taqabbalhu minna ya Karim.
Artinya: “Ya Allah, berkahilah waktu dan usaha kami, jadikan pekerjaan kami ini di jalan-Mu, dan terimalah amal kami wahai Dzat Yang Maha Pemurah.”
IFA.id menyoroti bahwa doa ini bukan sekadar formalitas. Ia mengikat setiap niat agar pekerjaan duniawi menjadi bagian dari ibadah. Doa ini juga menegaskan bahwa gotong royong bukan hanya aktivitas sosial, tetapi juga spiritual.
Baca Juga: Tenang di Tengah Gelap: Tahajud Sebagai Terapi Jiwa dalam Pandangan Islam
Selain memperkuat ukhuwah, gotong royong juga menumbuhkan kemandirian. Santri terbiasa mengurus segala kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Ketika ada fasilitas rusak, mereka memperbaiki bersama. Ketika dapur kekurangan bahan, mereka patungan dan memasak sendiri.
Dari sini lahir karakter tangguh dan adaptif. Tak heran, banyak alumni pesantren yang kemudian sukses di masyarakat karena terbiasa bekerja keras dan bekerja sama. Budaya gotong royong melatih mereka untuk memimpin dengan empati dan melayani dengan hati.
IFA.id mencatat bahwa di tengah era digital yang serba individualis, budaya ini menjadi oase nilai. Ia mengingatkan bahwa teknologi boleh canggih, tapi hati manusia tetap butuh kebersamaan.
Baca Juga: Ketika Dunia Terlelap, Langit Justru Terbuka: Keajaiban Doa Tahajud
Budaya gotong royong juga mencerminkan Islam yang hidup dalam konteks Nusantara. Islam datang ke Indonesia bukan dengan pedang, tapi dengan kasih, adab, dan kerja bersama. Pesantren menjadi benteng nilai itu: tempat di mana iman, budaya, dan persaudaraan berpadu.
Setiap gerakan sapu, setiap langkah santri yang memanggul ember, menjadi simbol Islam yang rahmatan lil ‘alamin agama yang membawa rahmat melalui tindakan nyata.
Kyai-kyai pesantren sering menekankan pentingnya kebersamaan dalam dakwah. "Dakwah itu bukan hanya ceramah, tapi juga ikut membersihkan halaman masjid,"
kata seorang kyai di Kediri kepada IFA.id. Kalimat sederhana, tapi menggambarkan filosofi mendalam: kebaikan sejati lahir dari tindakan bersama.