IFA.id - Malam di padang pasir itu gelap dan tenang. Di langit, miliaran bintang berkelip seperti permata. Lalu, seberkas cahaya melesat cepat membelah cakrawala.
Meteor jatuh. Sebagian orang hanya terpesona. Sebagian lagi merasa takut. Tapi dalam Islam, kilatan cahaya itu menyimpan makna mendalam tanda kuasa Allah yang menjaga langit dari bisikan jin dan setan.
Fenomena meteor bukan hal baru. Sejak masa Nabi Muhammad ﷺ, peristiwa ini sudah menjadi bahan perenungan. IFA.id mencatat, Al-Qur’an dan hadis menyinggung meteor bukan hanya sebagai fenomena kosmik, tapi juga simbol penjaga wahyu.
Dalam Surah Al-Mulk ayat 5, Allah berfirman:
Baca Juga: Tahajud: Ibadah Rahasia yang Menentukan Nasib Akhirat
“Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat pelempar setan...”
(QS. Al-Mulk [67]: 5)
Ayat ini menjadi dasar utama pemahaman Islam terhadap meteor. Cahaya yang kita lihat melesat di langit bukan hanya debu kosmik yang terbakar, tapi juga perwujudan kekuasaan Allah dalam menjaga wahyu dari campur tangan jin.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa bintang-bintang (termasuk meteor) berfungsi untuk tiga hal:
-
Hiasan bagi langit,
-
Lemparan terhadap setan yang mencuri berita langit,
-
Petunjuk arah bagi manusia di bumi.
Meteor dalam hal ini disebut syihab, yaitu nyala api yang digunakan malaikat untuk menghalau setan yang berusaha mendengar pembicaraan malaikat di langit.
Baca Juga: Ketika Tahajud Menyembuhkan Luka Batin