IFA.ID--Fenomena feodalisme akademik sering muncul di dunia pendidikan tinggi. Ini adalah budaya di mana senioritas dan posisi dosen dianggap mutlak, sementara mahasiswa diarahkan untuk diam, menerima, dan tidak banyak bertanya. Akibatnya, ruang berpikir kritis menjadi sempit, dan kualitas akademik yang seharusnya tumbuh justru terhambat.Baca Juga: Melatih Berani Salah, Karena Proses Membangun Diri Butuh Ruang Jatuh
Feodalisme akademik terlihat nyata dalam praktik sehari-hari. Misalnya, mahasiswa enggan mengkritik materi kuliah, takut berbeda pendapat di forum seminar, atau merasa nilai dan akses riset hanya bisa didapat jika “dekat” dengan dosen. Bahkan dalam sidang skripsi atau tesis, terkadang mahasiswa hanya mendengar tanpa berani menanggapi, seolah-olah kritik adalah bentuk kurang ajar.
Budaya ini muncul dari berbagai akar penyebab. Pertama, warisan budaya hierarki di masyarakat yang menempatkan senioritas di atas argumen. Kedua, ketergantungan mahasiswa terhadap dosen dalam hal nilai, rekomendasi, hingga akses penelitian. Ketiga, mekanisme penilaian dan promosi yang cenderung menguntungkan pihak berkuasa. Keempat, minimnya saluran pengaduan yang aman membuat mahasiswa takut melapor bila mengalami ketidakadilan.Baca Juga: Budaya Sungkan yang Membunuh Keberanian Berpikir
Dampaknya jelas: mahasiswa kehilangan kesempatan untuk berlatih berpikir kritis, diskusi menjadi formalitas, dan keberanian intelektual tergerus. Dalam jangka panjang, budaya takut salah atau takut berbeda menjadikan kampus miskin gagasan. Bahkan, mahasiswa bisa mengalami tekanan psikologis karena hidup dalam ketakutan terhadap “otoritas akademik”.
Meski begitu, feodalisme akademik bukan berarti tidak bisa diubah. Mahasiswa dapat melatih cara menyampaikan kritik dengan data dan sikap hormat, mencari ruang diskusi alternatif, dan membangun solidaritas dengan sesama. Dosen juga punya peran besar dengan membuka ruang tanya, menghargai perbedaan pendapat, serta memberi penilaian secara transparan. Institusi perlu menyediakan mekanisme pengawasan yang kuat, evaluasi dosen secara berkala, dan saluran aduan yang aman.Baca Juga: Mengapa Kita Sering Cemas Tanpa Alasan Jelas?
Jika dibiarkan, feodalisme akademik hanya melahirkan lulusan yang patuh, bukan pemikir. Namun, jika berani diubah, kampus bisa menjadi ruang sehat tempat gagasan tumbuh, perdebatan berlangsung adil, dan mahasiswa benar-benar belajar menjadi manusia yang utuh.Baca Juga: Menciptakan Masyarakat yang Kritis dalam Bias Budaya