IFA.id - Masjid Cheng Ho di Surabaya menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Islam di Indonesia. Dibangun pada awal tahun 2000-an, masjid ini terinspirasi dari laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah muslim dari Tiongkok yang berjasa besar dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Keunikannya membuat masjid ini selalu ramai dikunjungi, baik untuk ibadah maupun wisata religi.
Baca Juga: Transparansi Zakat: Bagaimana Lembaga Menjaga Kepercayaan Publik?
Arsitektur Masjid Cheng Ho memadukan gaya pagoda Tiongkok dengan sentuhan islami. Warna merah, hijau, dan emas mendominasi bangunan, sementara ukiran naga berpadu dengan kaligrafi Arab, menciptakan harmoni estetika yang jarang ditemui. Bentuk bangunan yang menyerupai klenteng sekaligus masjid membuatnya tampak begitu ikonik.
Baca Juga: Mengenal Akhlak Rasulullah untuk Generasi Muda : Keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari
Selain tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial dan dakwah. Berbagai acara budaya, pengajian, hingga peringatan hari besar Islam sering digelar di sini, menghadirkan semangat kebersamaan lintas etnis. Dengan begitu, Masjid Cheng Ho berfungsi sebagai jembatan antara tradisi Tionghoa dan keislaman.
Baca Juga: Tren Kesadaran Sholat di Indonesia
Tak hanya di Surabaya, masjid dengan nama serupa juga dibangun di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Palembang dan Pandaan. Semua masjid tersebut membawa semangat persatuan dan bukti bahwa Islam mampu hidup berdampingan dengan budaya lokal yang beragam.
Baca Juga: Membaca Al-Qur'an di Era Digital: Tips Praktis untuk Generasi Milenial
Kini, Masjid Cheng Ho tidak hanya menjadi rumah ibadah, tetapi juga ikon toleransi dan keragaman. Kehadirannya mengingatkan bahwa Islam di Nusantara berkembang dengan damai, melalui jalur perdagangan, budaya, dan diplomasi.