IFA.ID--Tawa adalah salah satu cara manusia bertahan dari kepenatan hidup. Itulah sebabnya acara komedi di televisi selalu punya tempat di hati penonton. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita renungkan: tawa seperti apa yang sebenarnya kita nikmati?Baca Juga: Mengapa Kita Sulit Move On: Pola Keterikatan Emosional
Jika diperhatikan, banyak acara komedi di televisi Indonesia masih mengandalkan humor slapstick dan ejekan fisik. Lelucon tentang tubuh gemuk, warna kulit, hingga aksen daerah tertentu menjadi bahan tertawaan yang terus diulang. Penonton mungkin terhibur, tapi apakah para objek lelucon itu juga ikut merasakan hal yang sama?
Di sinilah letak masalahnya. Humor di layar kaca tidak sekadar urusan hiburan; ia juga membentuk cara kita memandang orang lain. Ketika televisi terus-menerus menertawakan tubuh gemuk, ia memperkuat stigma bahwa gemuk identik dengan bahan olokan. Saat logat daerah tertentu dijadikan bahan ejekan, ia menanamkan persepsi bahwa perbedaan bahasa adalah sebuah kekurangan.Baca Juga: Psikologi Emosi Sehari-hari: Mengelola Marah, Sedih, dan Bahagia
Dampaknya bisa nyata. Anak-anak yang tumbuh dengan tontonan semacam ini belajar bahwa merundung teman karena fisiknya adalah hal yang wajar. Remaja yang tubuhnya berbeda dengan standar media bisa merasa rendah diri. Orang dewasa pun, tanpa sadar, mereproduksi candaan serupa dalam percakapan sehari-hari. Dengan kata lain, tawa di televisi dapat bertransformasi menjadi luka sosial.
Sebagian orang mungkin akan berkilah, “Ah, itu kan cuma bercanda.” Tapi apakah bercanda berarti bebas dari tanggung jawab? Jika humor berulang kali menyinggung kelompok tertentu, maka bercanda bukan lagi sekadar hiburan, ia berubah menjadi normalisasi diskriminasi.
Televisi punya kekuatan besar dalam membentuk budaya. Karena itu, seharusnya ia mampu menghadirkan humor yang lebih sehat dan cerdas. Lelucon bisa lahir dari banyak hal selain ejekan fisik: permainan kata, ironi, satire politik, atau absurditas kehidupan sehari-hari. Kita punya komedian yang sudah membuktikan hal ini: Cak Lontong dengan permainan logika kocaknya, atau Pandji Pragiwaksono dengan kritik sosial yang segar.Baca Juga: Kenapa Kita Sering Menunda? Prokrastinasi dalam Psikologi Sehari-hari
Pertanyaannya kemudian, tawa seperti apa yang ingin kita wariskan pada generasi berikutnya? Apakah tawa yang lahir dari merendahkan orang lain, atau tawa yang membuat kita sama-sama merasa lega tanpa ada yang terluka?
Humor akan selalu menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Namun, sebagai audiens, kita perlu lebih kritis: jika ada lelucon yang membuat orang lain merasa direndahkan, mungkin itu bukan tawa yang benar-benar layak kita rayakan.
PENULIS : Nabila Ni'matul Fuadhah | Mahasiswa dan Wakil Ketua BPM Fakultas Psikologi UPI YAI