ibrah

Psikologi Sosial: Mengapa Kita Ingin Diakui?

Kamis, 7 Agustus 2025 | 06:02 WIB

IFA.ID--Setiap manusia, tanpa memandang usia, status sosial, atau latar belakang budaya, memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diakui oleh orang lain. Keinginan ini bisa muncul dalam bentuk ingin dipuji, ingin didengarkan, ingin dianggap penting, atau sekadar ingin keberadaannya disadari. Dalam psikologi sosial, dorongan ini disebut sebagai kebutuhan akan afiliasi dan penghargaan sosial. Tapi mengapa kebutuhan akan pengakuan ini begitu kuat?Baca Juga: Psikologi Makan Berlebihan: Antara Nafsu dan Kontrol Diri

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sejak lahir, manusia tidak bisa bertahan hidup sendirian. Bayi membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan perawatan dari orang dewasa. Kebutuhan ini berkembang seiring bertambahnya usia menjadi kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan diakui oleh lingkungan sekitar. Maka, kebutuhan untuk diakui bukan sekadar keinginan pribadi, tapi bagian dari proses manusia bertahan dan berkembang dalam masyarakat.

Dalam teori psikologi humanistik, khususnya yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, kebutuhan akan penghargaan (esteem needs) berada di tingkat keempat dari hierarki kebutuhan manusia. Setelah kebutuhan dasar (makan, minum, keamanan, dan cinta) terpenuhi, manusia akan mencari penghargaan baik dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain. Ini termasuk kebutuhan untuk merasa dihormati, dihargai, dan memiliki prestasi. Tanpa penghargaan, seseorang bisa merasa rendah diri, tidak berarti, atau kehilangan motivasi.Baca Juga: Memimpin Bukan Mengontrol: Bedakan Antara Kepemimpinan dan Penindasan

Dalam konteks sosial, pengakuan sering dikaitkan dengan identitas dan peran sosial. Kita ingin diakui sebagai siswa yang pintar, teman yang setia, pemimpin yang berpengaruh, atau pribadi yang lucu dan menyenangkan. Ketika orang lain memberi kita pengakuan atas peran atau keunikan kita, harga diri meningkat. Sebaliknya, saat kita merasa diabaikan atau tidak dihargai, kita bisa mengalami perasaan hampa, kecewa, bahkan marah.

Media sosial memperkuat fenomena ini. Banyak orang merasa senang ketika mendapat “like”, komentar positif, atau banyak pengikut. Itu semua dianggap sebagai bentuk pengakuan modern. Meskipun tidak selalu buruk, terlalu bergantung pada validasi dari luar bisa berisiko menurunkan kepercayaan diri jika tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Kita jadi mudah membandingkan diri dengan orang lain, merasa kurang, atau tidak cukup baik. Padahal, pengakuan sejati seharusnya juga datang dari dalam diri sendiri.Baca Juga: Sholat sebagai Terapi Ketenangan Jiwa: Perspektif Psikologi Kognitif

Dalam interaksi sehari-hari, dorongan untuk diakui bisa terlihat dari hal-hal sederhana. Seseorang bercerita panjang lebar karena ingin didengar. Anak-anak menunjukkan gambar yang mereka buat agar mendapat pujian. Teman kita mungkin marah bukan karena isi pembicaraan, tapi karena merasa diabaikan. Semua itu menunjukkan betapa pentingnya perasaan diakui.

Namun, penting juga untuk menyadari bahwa keinginan untuk diakui bisa menjadi pedang bermata dua. Jika kita terlalu mengejar pengakuan dari orang lain, kita bisa kehilangan arah hidup. Kita jadi berperilaku bukan karena sesuai dengan nilai diri, tapi karena ingin disukai atau diterima. Akibatnya, kita bisa kehilangan jati diri, mudah lelah secara emosional, dan merasa kosong meskipun terlihat “sukses” di mata orang lain.Baca Juga: Mengapa Kita Sulit Move On: Pola Keterikatan Emosional

Psikologi sosial mengajarkan bahwa penting untuk menyeimbangkan kebutuhan akan pengakuan dengan rasa percaya diri internal. Pengakuan dari luar memang menyenangkan, tapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan. Penguatan dari dalam diri seperti menyadari nilai diri, bersyukur atas pencapaian kecil, dan menerima kekurangan adalah bentuk pengakuan yang lebih stabil dan sehat.

Kita juga bisa belajar menjadi pemberi pengakuan. Sering kali, kita terlalu fokus pada diri sendiri hingga lupa bahwa orang lain juga butuh dihargai. Memberi pujian tulus, mendengarkan dengan empati, menyebut nama seseorang dalam diskusi, atau sekadar menyapa dengan tulus adalah bentuk pengakuan yang bisa membuat orang lain merasa berarti. Dan saat kita membuat orang lain merasa diakui, kita pun secara alami akan mendapat tempat dalam hubungan sosial yang sehat.Baca Juga: Kenapa Kita Sering Menunda? Prokrastinasi dalam Psikologi Sehari-hari

Akhirnya, pertanyaan “mengapa kita ingin diakui?” adalah bagian dari pertanyaan yang lebih besar: “apa makna kita dalam kehidupan sosial?” Jawabannya mungkin berbeda-beda bagi setiap orang, tetapi satu hal yang pasti: keinginan untuk diakui adalah bagian dari kemanusiaan kita. Memahami hal ini akan membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat, menghargai diri sendiri, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berkembang.



Refrensi :

  • The Psychology of Recognition: Identity, Dignity, and Respect in Social Life. Anthony J. Steinbock (2024)

  • The Social Instinct: How Cooperation Shaped the World. Nichola Raihani (2023)

Halaman:

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB