Salah satu penyebab utama kegelisahan adalah rasa tidak puas dan terus membandingkan diri dengan orang lain.
Islam mengajarkan pentingnya bersyukur atas setiap nikmat, baik kecil maupun besar. Orang yang bersyukur hatinya akan lapang dan tidak mudah iri terhadap rezeki orang lain.
Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya adalah cukup, dan rezeki setiap manusia sudah diatur oleh Allah.
Rasulullah SAW bersabda: “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian, dan jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kalian. Itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim)
Memaafkan dan Menjaga Hati dari Kebencian
Hati yang penuh dendam dan amarah tidak akan pernah tenang. Islam mengajarkan pentingnya memaafkan dan berlapang dada.
Dengan memaafkan, kita membebaskan hati dari beban yang tidak perlu. Bahkan, Allah menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang mampu menahan marah dan memberi maaf.
“...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Baca Juga: Hargai Tuan Rumah! Ini Etika Menginap di Rumah Keluarga Saat Mudik yang Wajib Kamu Tahu
Menjalin Hubungan Baik dengan Sesama
Hidup tidak lepas dari interaksi sosial. Salah satu sumber ketenangan adalah hubungan yang harmonis dengan keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar.
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga silaturahmi, tidak menyakiti orang lain, dan menjadi pribadi yang lemah lembut.
Rasulullah SAW adalah teladan dalam berakhlak. Beliau selalu bersikap ramah, tidak membalas keburukan dengan keburukan, dan selalu mengutamakan perdamaian.
Ketika kita mengikuti akhlak beliau, hidup kita menjadi lebih tenteram dan dijauhkan dari konflik yang tidak perlu.
Hidup tenang bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki segelintir orang. Setiap Muslim yang menjadikan iman sebagai fondasi hidup, menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama, serta berusaha memurnikan hati dari sifat buruk, akan merasakan ketenangan yang hakiki.