ibrah

Bilal bin Rabah, muadzin pertama Islam, disiksa karena imannya, tetapi tetap teguh dengan kalimat "Ahad, Ahad.

Minggu, 23 Februari 2025 | 20:44 WIB
Kisah Bilal bin Rabah: Muadzin Pertama yang Disiksa karena Islam (foto/youtube )

IFA.id -- Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dikenal karena keimanannya yang teguh.

Ia merupakan budak yang mengalami penyiksaan berat karena mempertahankan Islam, namun kesabarannya mengantarkannya menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam.

Baca Juga: Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa: Mengungkap Rahasia Ilmu Allah yang Tersembunyi

Latar Belakang Bilal bin Rabah

Bilal lahir di Mekah dari seorang ibu keturunan Habsyi (Ethiopia) dan ayah Arab. Ia adalah seorang budak milik seorang pemuka Quraisy yang bernama Umayyah bin Khalaf.

Sebagai seorang budak, Bilal tidak memiliki hak dan sering mendapat perlakuan kasar dari tuannya.

Ketika Islam mulai tersebar, Bilal termasuk orang pertama yang memeluk agama ini. Keputusannya memeluk Islam membuat Umayyah murka dan menyiksanya dengan kejam.

Baca Juga: Islam di Nusantara: Perjalanan Dakwah dan Kiprah Wali Songo

Penyiksaan yang Dialami Bilal

Umayyah bin Khalaf mencoba memaksa Bilal untuk meninggalkan Islam dengan berbagai siksaan berat.

Ia diseret di atas pasir panas, dicambuk, dan ditindih dengan batu besar di dadanya. Namun, di tengah penderitaannya, Bilal tetap teguh dan hanya mengucapkan satu kata:

"Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa).

Keimanannya yang kokoh membuat para sahabat terkesan. Akhirnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq menebus Bilal dengan sejumlah uang dan membebaskannya dari perbudakan.

Muadzin Pertama dalam Islam

Setelah bebas, Bilal menjadi sahabat setia Rasulullah SAW. Ia mendapat kehormatan menjadi muadzin pertama dalam Islam setelah perintah adzan turun.

Suaranya yang indah menggema di langit Madinah, menyerukan panggilan shalat kepada kaum Muslimin.

Baca Juga: Pentingnya Konsisten dalam Berbuat Baik Sepanjang Tahun

Kesedihan Bilal setelah Wafatnya Nabi SAW

Bilal sangat mencintai Rasulullah SAW. Setelah wafatnya Nabi, ia merasa sangat kehilangan. Ia pun meninggalkan Madinah dan berhijrah ke Syam (Suriah).

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB