IFA.id -- Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dikenal karena keimanannya yang teguh.
Ia merupakan budak yang mengalami penyiksaan berat karena mempertahankan Islam, namun kesabarannya mengantarkannya menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam.
Baca Juga: Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa: Mengungkap Rahasia Ilmu Allah yang Tersembunyi
Latar Belakang Bilal bin Rabah
Bilal lahir di Mekah dari seorang ibu keturunan Habsyi (Ethiopia) dan ayah Arab. Ia adalah seorang budak milik seorang pemuka Quraisy yang bernama Umayyah bin Khalaf.
Sebagai seorang budak, Bilal tidak memiliki hak dan sering mendapat perlakuan kasar dari tuannya.
Ketika Islam mulai tersebar, Bilal termasuk orang pertama yang memeluk agama ini. Keputusannya memeluk Islam membuat Umayyah murka dan menyiksanya dengan kejam.
Baca Juga: Islam di Nusantara: Perjalanan Dakwah dan Kiprah Wali Songo
Penyiksaan yang Dialami Bilal
Umayyah bin Khalaf mencoba memaksa Bilal untuk meninggalkan Islam dengan berbagai siksaan berat.
Ia diseret di atas pasir panas, dicambuk, dan ditindih dengan batu besar di dadanya. Namun, di tengah penderitaannya, Bilal tetap teguh dan hanya mengucapkan satu kata:
"Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa).
Keimanannya yang kokoh membuat para sahabat terkesan. Akhirnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq menebus Bilal dengan sejumlah uang dan membebaskannya dari perbudakan.
Muadzin Pertama dalam Islam
Setelah bebas, Bilal menjadi sahabat setia Rasulullah SAW. Ia mendapat kehormatan menjadi muadzin pertama dalam Islam setelah perintah adzan turun.
Suaranya yang indah menggema di langit Madinah, menyerukan panggilan shalat kepada kaum Muslimin.
Baca Juga: Pentingnya Konsisten dalam Berbuat Baik Sepanjang Tahun
Kesedihan Bilal setelah Wafatnya Nabi SAW
Bilal sangat mencintai Rasulullah SAW. Setelah wafatnya Nabi, ia merasa sangat kehilangan. Ia pun meninggalkan Madinah dan berhijrah ke Syam (Suriah).