IFA.id – Rasulullah pertama kali bertemu dengan Rabiah, yang berasal dari suku Aslam, ketika ia masih remaja.
Hatinya dipenuhi dengan cinta dan pengabdian saat melihat kepribadian Nabi yang penuh kasih dan kebijaksanaan.
Ia dengan cepat membuat keputusan untuk menjadi pelayan Nabi dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk membantu kebutuhan Nabi.
Baca Juga: Jejak Langkah Abu Dzar al-Ghifari: Dari Penyamun Menjadi Ikon Kesederhanaan dalam Islam
Rabiah membantu Nabi dalam urusan sehari-harinya dan selalu siap menemaninya ke mana pun beliau pergi.
Rabiah menghadapi banyak kesulitan sebagai anggota Ahlus Shuffah. Ahlus Shuffah adalah kelompok orang miskin yang tinggal di beranda Masjid Nabawi.
Mereka tidak memiliki keluarga atau tempat tinggal tetap. Mereka bergantung pada sedekah dan bantuan orang muslim lainnya.
Baca Juga: Longsor Di Pekalongan Tewaskan 17 Orang Warga Setempat
Rabiah tidak pernah merasa kekurangan selama ia bisa berada di samping Rasulullah, meskipun dia hidup dalam kesederhanaan. Ia sering berjaga di depan rumah Nabi, siap membantu kapan saja diperlukan.
Suatu hari Rabiah dihubungi oleh Rasulullah untuk meminta sesuatu. Dengan tulus, Rabiah mengatakan dia ingin menjadi pendamping Nabi di surga, dia tidak meminta kekayaan atau hal-hal duniawi lainnya.
Kemudian Rasulullah menjawab bahwa Rabiah harus memperbanyak sujud dan beribadah kepada Allah untuk mencapai keinginan tersebut. Nasihat ini mendorong Rabiah untuk lebih banyak beribadah kepada Allah.
Baca Juga: Pola Hidup Sehat ala Rasulullah SAW: Inspirasi untuk Kesehatan Jasmani dan Ruhani
Meskipun sangat mencintai pengabdiannya kepada Nabi, Rabiah menghadapi kesulitan di kehidupan pribadinya juga.
Ketika Rasulullah bertanya kepada Rabiah mengapa dia tidak menikah, dia menjawab bahwa dia tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan mahar.