IFA.id – Lahir di Makkah sekitar tahun 580 M, Bilal bin Rabah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dan dikenal sebagai muazzin pertama dalam sejarah islam.
Dia adalah seorang budak berkulit hitam keturunan Habasyah (sekarang Ethiopia) yang mengalami diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat Quraisy, tetapi dia tetap setia pada agama islam meskipun mengalami banyak penderitaan.
Selama masa kanak-kanak, Bilal menjadi budak oleh Umayyah bin Khalaf, seorang pemimpin Quraisy yang terkenal kejam.
Baca Juga: Kisah Mush’ab bin Umair: Pelopor Dakwah yang Tak Kenal Lelah di Tengah Penolakan
Bilal merasakan panggilan untuk menganut agama islam ketika berita tentang agama ini mulai menyebar.
Meskipun ia menyadari konsekuensi yang mengerikan dari keputusannya, ia menemui Nabi Muhammad dan mengakui keislamannya.
Setelah tuannya mengetahui Bilal menjadi muslim, ia mengalami penyiksaan yang kejam. Untuk memaksanya meninggalkan islam, Umayyah dan algojonya menggunakan berbagai cara, seperti mencambuknya dan menindihnya dengan batu panas.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Talhah bin Ubaidillah: Kesetiaan yang Tak Terbantahkan di Medan Perang
Namun, Bilal tetap bersikeras mengucapkan "Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa) sebagai bentuk peneguhan imannya.
Tidak peduli berapa banyak siksaan yang diterima Bilal, ia tetap teguh pada keyakinannya dan menunjukkan keberanian luar biasa dengan menolak untuk menyembah berhala Quraisy.
Akhirnya, setelah melihat penderitaan Bilal yang tak tertahankan, Abu Bakar As-Siddiq membebaskannya dengan uang.
Baca Juga: Wisata Kuliner Halal di Bogor: Rekomendasi Tempat Makan Favorit
Setelah dibebaskan, Bilal menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad dan menjadi muazzin pertama dalam sejarah islam setelah Allah menurunkan wahyu tentang adzan.
Suara merdu dan lantangnya membuatnya dipilih untuk mengumandangkan panggilan shalat kepada umat muslim, dan dia melakukan tugas ini dengan penuh dedikasi, baik di waktu damai maupun dalam perang.