IFA.ID--Ada ritual malam yang tak lagi asing bagi banyak orang di era sekarang: rebahan di kasur, mematikan lampu, lalu membuka gawai. Jari kita menggulir layar tanpa tujuan jelas, seakan menunggu kantuk datang lewat deretan konten yang disajikan algoritma.Baca Juga: Tawa Yang Kita Wariskan
Saya pun salah satunya. Awalnya, ritual ini saya anggap sekadar “pemanasan” sebelum tidur , mungkin dengan melihat video kucing, potongan drama Korea, atau motivasi singkat, kantuk bisa lebih cepat menghampiri. Namun kenyataannya, yang terjadi justru kebalikannya: semakin lama menggulir, semakin jauh mata dari rasa lelah.
Yang menarik, saya bukan satu-satunya. Beberapa teman mengaku punya ritual serupa. Ada yang tak bisa terlelap tanpa menonton YouTube, ada yang harus mendengarkan podcast horor, ada pula yang selalu menyalakan televisi hanya demi ditemani suara. Media, dalam hal ini, telah mengambil peran yang dulu dimainkan oleh doa, dongeng, atau percakapan ringan sebelum tidur.Baca Juga: Kenapa Kita Sering Menunda? Prokrastinasi dalam Psikologi Sehari-hari
Namun, ada paradoks di balik ritual ini. Kita mencari ketenangan lewat layar, tapi justru sering kehilangan waktu istirahat karenanya. Kita ingin ditemani, tapi kerap merasa kosong begitu ponsel diletakkan. Kita berharap media memberi kantuk, namun yang datang malah rasa cemas karena jam tidur kembali berkurang.
Ritual scroll sebelum tidur membuat saya sadar bahwa media tak lagi sekadar alat hiburan. Ia telah menjelma bagian dari rutinitas intim manusia, menemani momen paling personal: saat kita hendak memejamkan mata. Bedanya, kalau dulu kita menutup hari dengan doa atau obrolan ringan, kini banyak orang menutupnya dengan algoritma yang terus memproduksi konten tanpa henti.
Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya mengendalikan ritual ini? Apakah kita yang memegang kendali penuh, atau justru algoritma yang membentuk kebiasaan kita?Baca Juga: Memahami Kematian: Perspektif Psikologi Eksistensial dan Islam
Pada akhirnya, ritual bermedia ini mengingatkan saya bahwa tidur bukan lagi sekadar soal lelah tubuh, melainkan juga soal relasi kita dengan media. Mungkin kita tetap akan menggulir layar sebelum tidur, tetapi setidaknya ada baiknya kita menyadari: tidak semua tawa, motivasi, atau hiburan dari layar benar-benar mampu mengantar kita ke lelap yang kita cari.
PENULIS : Nabila Ni'matul Fuadhah | Mahasiswa dan Wakil Ketua BPM Fakultas Psikologi UPI YAI