Baca Juga: Olahraga dalam Islam: Antara Kesehatan Jasmani dan Ibadah Sehari-Hari
Sementara itu, berkuda adalah latihan yang membangun keberanian, keterampilan motorik, dan keharmonisan antara tubuh dan hewan. Di era modern, berkuda mungkin tidak menjadi kebutuhan mobilitas, namun tetap relevan sebagai olahraga yang meningkatkan kepercayaan diri.
Sedangkan renang adalah latihan fisik sempurna yang menguatkan otot, melatih pernapasan, sekaligus merangsang hormon kebahagiaan.
Tiga olahraga sunnah itu sering dianggap sekadar sejarah, padahal prinsip dasarnya bisa diterjemahkan dalam banyak pilihan olahraga masa kini. Lari, jalan cepat, bersepeda, hiking, atau olahraga rumahan pun bisa menjadi bagian dari sunnah menjaga kesehatan.
IFA.id mencatat bahwa inti dari teladan Nabi bukan hanya pada jenis olahraganya, tetapi pada semangat untuk menjaga kebugaran.
Baca Juga: Sunnah Bergerak: Makna Olahraga dalam Kehidupan Muslim Modern
Tubuh yang kuat menjadi modal untuk ibadah yang optimal. Bagaimana seseorang dapat salat malam bila tubuhnya selalu letih? Bagaimana seseorang dapat menuntut ilmu dengan maksimal bila tubuhnya mudah lelah?
Dalam kajian-kajian kesehatan modern, olahraga tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik tetapi juga keseimbangan mental.
Umat Islam sebenarnya sudah lama mengenal konsep ini melalui ajaran Nabi yang menekankan al-quwwah kekuatan fisik dan mental sebagai bagian dari karakter Muslim.
Bahkan ada hadis yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Para ulama memahami kata “kuat” di sini dalam arti yang luas, termasuk kekuatan fisik.
Baca Juga: Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim
Namun, ada satu hal penting. Rasulullah selalu menekankan moderasi. Artinya, olahraga dilakukan dengan proporsional, tidak berlebihan, dan tidak memaksa tubuh di luar batas.
Begitu pula dalam praktik sehari-hari, Muslim diajak menjaga keseimbangan antara ibadah, aktivitas fisik, dan istirahat. Sebuah keseimbangan hidup yang membuat tubuh sehat, pikiran jernih, dan hati lapang.
IFA.id mencatat bahwa generasi Muslim modern menghadapi tantangan baru: gaya hidup sedentari. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan layar, bergerak sangat sedikit, dan jarang berolahraga.
Jika gaya hidup ini dibiarkan, tubuh perlahan kehilangan kekuatan, dan dampaknya terasa pada aktivitas ibadah maupun produktivitas. Maka meneladani gaya hidup aktif Rasulullah menjadi relevan kembali, bukan hanya sebagai sunnah, tetapi sebagai kebutuhan kesehatan.