IFA.id mencatat bahwa esensi salam tetap sama, meski medianya berubah. Yang patut dijaga adalah adabnya, termasuk menjawab salam ketika menerima pesan, selama konteksnya jelas.
Namun ada satu fenomena menarik yang sering terjadi di media sosial: seseorang memberi salam di kolom komentar, tetapi diabaikan oleh orang yang dituju.
Baca Juga: Budaya Terima Kasih Mulai Luntur, Kiai Ingatkan Pesan Rasul
Ini menunjukkan bahwa adab salam bukan hanya berlaku secara langsung, tetapi juga di ruang digital. Mengabaikan salam tanpa alasan yang jelas membuat hubungan terlihat kaku dan dingin.
IFA.id mengingatkan bahwa sekalipun dunia berubah, nilai salam tidak seharusnya menipis. Salam adalah identitas. Menghidupkannya adalah menghidupkan hubungan.
Salam adalah Cermin
Jika ingin mengetahui bagaimana sebuah komunitas memandang kebersamaan, lihatlah bagaimana mereka memberi salam. IFA.id mencatat bahwa semakin sering salam dilestarikan, semakin hangat hubungan di dalamnya.
Salam mengajarkan bahwa hubungan dimulai dengan doa. Ia adalah pengingat bahwa di balik semua rutinitas, manusia tetap membutuhkan kedamaian satu sama lain.
Baca Juga: Mengapa Islam Menekankan Terima Kasih? Ini Penjelasan Ahli
Assalamu’alaikum adalah doa yang melingkupi kehidupan. Ketika diucapkan, ia membawa harapan agar dunia kecil yang sedang dihuni terasa aman.
Ketika dijawab, ia menunjukkan penerimaan bahwa kedamaian itu layak dibalas. Bila dirawat, salam adalah jembatan yang tak akan runtuh oleh jarak, perbedaan, atau waktu.