tafaquh

Mengapa Pamer Bisa Merusak Amal?

Senin, 24 November 2025 | 21:17 WIB
Mengapa Pamer Bisa Merusak Amal? (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang penuh sorotan, pamer menjadi hal yang sangat mudah dilakukan tanpa disadari. Namun IFA.id melihat bahwa Islam memberikan peringatan keras terhadap sikap ini. Pamer bukan hanya sikap buruk secara sosial, tetapi bisa merusak inti dari ibadah itu sendiri: keikhlasan.

Rasulullah SAW menyebut riyaa—perilaku pamer dalam ibadah—sebagai syirik kecil. Bukan karena seseorang menyembah selain Allah, tetapi karena hatinya mengharapkan pujian manusia. Ketika niat ibadah berpindah dari Allah kepada makhluk, di situlah amal kehilangan nilainya. IFA.id mencatat bahwa bahaya besar riyaa terletak pada rusaknya orientasi hati.

Perubahan niat sering kali terjadi secara halus. Seseorang mungkin awalnya berniat ikhlas, tetapi ketika melihat ada yang memuji, hatinya berubah. Jika tidak disadari dan tidak segera diperbaiki, kebiasaan ini menjadi penyakit hati yang berbahaya. Islam menekankan bahwa Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat tulus.

Pamer juga merusak makna ibadah. Tujuan ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ketika seseorang memamerkan ibadahnya, fokus beralih kepada manusia. IFA.id menilai bahwa inilah sebab mengapa riyaa digambarkan sebagai pencuri pahala—ia mengambil sesuatu yang seharusnya bernilai besar dan meninggalkannya tanpa makna.

Baca Juga: Bahaya Sikap Pamer dalam Islam

Dalam hadis, Rasulullah SAW memberikan perumpamaan bahwa amal yang tercampur riyaa seperti makanan yang rusak karena tercemar. Tidak lagi layak dimakan dan tidak memberikan manfaat. Begitu pula amal yang dipamerkan—indah di luar, tetapi kosong di dalam. Hati seseorang tidak mendapatkan ketenangan yang seharusnya dirasakan dari ibadah.

Di era media sosial, pamer ibadah menjadi fenomena yang sulit dipungkiri. Unggahan foto umrah, sedekah, pengajian, hingga amalan-amalan tertentu sering dijadikan konten. IFA.id menyadari bahwa tidak semua unggahan pasti buruk, tetapi niat menjadi kunci. Niat yang tulus dapat menjadikan unggahan sebagai inspirasi, tetapi niat yang ingin dipuji menjadikannya riyaa.

Pamer juga menciptakan tekanan sosial. Ketika ibadah dijadikan ajang pamer, orang lain merasa tertinggal atau malu. Padahal setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang berbeda. Islam menekankan bahwa ibadah bukan perlombaan visual, melainkan perlombaan hati. Inilah mengapa ulama sering mengajarkan untuk menyembunyikan amal sunah.

Dalam kehidupan pribadi, pamer dapat merusak hubungan dengan Allah. Ketika seseorang terbiasa mencari perhatian manusia, ia menjadi sulit merasakan kedekatan dengan Allah. IFA.id mencatat bahwa penyakit ini membuat hati gelisah, karena pujian manusia tidak pernah cukup dan tidak pernah stabil.

Baca Juga: Apakah Kurma Bisa Jadi Obat? Pandangan Islam

Pamer juga merusak kualitas diri. Seseorang yang gemar pamer biasanya lebih sibuk membangun citra daripada memperbaiki akhlak. Ia mudah tersinggung jika tidak dipuji, dan mudah iri jika ada yang dianggap lebih unggul. Islam menginginkan manusia memiliki hati yang tenang, bukan hati yang haus pengakuan.

Dalam lingkup sosial, pamer dapat memicu kesenjangan dan kecemburuan. Menunjukkan harta, pencapaian, atau ibadah secara berlebihan sering membuat orang lain merasa rendah diri. IFA.id menilai bahwa Islam mengajarkan sensitivitas sosial agar tidak menyakiti hati sesama dengan menunjukkan nikmat secara berlebihan.

Cara terbaik menghindari pamer adalah membangun keikhlasan. Keikhlasan tidak muncul begitu saja; ia harus dilatih. Menjaga niat, memperbanyak amal tersembunyi, dan mengingat bahwa semua kenikmatan berasal dari Allah adalah cara utama membersihkan hati. Ulama bahkan menyebut amal tersembunyi sebagai penjaga hati dari riyaa.

Islam juga mengajarkan tawadhu atau rendah hati sebagai lawan dari pamer. Orang yang rendah hati tidak merasa perlu menunjukkan apa pun, karena ia tahu bahwa kebaikan sejati tidak memerlukan sorotan. IFA.id menilai bahwa sifat ini membuat seseorang lebih tenang dan lebih dipercaya dalam kehidupan sosial.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB