Dengan kata lain, pendekatan kontekstual bukan penemuan modern. Ia adalah cara lama yang hidup kembali karena relevansi dan kemampuannya menjembatani pembaca masa kini dengan dunia Nabi.
Baca Juga: Ketika Hati Gelisah, Malam Jumat Menjawab: Doa yang Diajarkan Ulama
Menghindari Salah Tafsir Akibat Lupa Konteks
Pernah terdengar seseorang membaca ayat tentang larangan berhubungan baik dengan orang nonmuslim, lalu ia menarik kesimpulan bahwa umat Islam dilarang menjalin persahabatan dengan pemeluk agama lain.
Padahal, ayat tersebut turun dalam situasi perang, ketika pengkhianatan antarkelompok menjadi ancaman nyata bagi keselamatan umat.
ICA.id mencatat bahwa tanpa memahami konteks historis, ayat yang sifatnya sangat situasional bisa disalahpahami sebagai aturan absolut. Sebaliknya, ayat yang sifatnya universal bisa dianggap hanya relevan untuk masa lalu.
Beberapa contoh lain menunjukkan pentingnya memahami konteks:
Baca Juga: Tidak Semua Doa Sama: Inilah Amalan Malam Jumat yang Diutamakan Nabi
-
Ayat tentang poligami
Turun sebagai respon terhadap kondisi perempuan yatim yang tak terlindungi setelah perang Uhud. Konteksnya sangat kuat terkait perlindungan sosial. -
Ayat tentang warisan perempuan
Datang pada masa ketika perempuan tidak mendapat hak sama sekali. Ayat itu sebenarnya adalah revolusi sosial luar biasa, bukan pembatasan hak. -
Ayat tentang pembebasan budak
Banyak ayat tentang kaffarah dikaitkan dengan pembebasan budak, yang menunjukkan misi gradual menghapus praktik tersebut.
Dengan memahami latar belakang seperti ini, IFA.id melihat bahwa ayat Al Qur’an justru tampak lebih adil, humanis, dan progresif dibandingkan kesalahpahaman yang sering muncul tanpa konteks.
Dunia Arab Abad ke-7: Panggung Turunnya Wahyu
Untuk memahami konteks historis Al Qur’an, IFA.id sering mengajak pembaca membayangkan dunia Arab abad ke-7 yang penuh dinamika.
Baca Juga: Tidak Semua Doa Sama: Inilah Amalan Malam Jumat yang Diutamakan Nabi