Baca Juga: Terima Kasih Tak Sekadar Formalitas: Islam Ajarkan Syukur yang Hidup
IFA.id menulis bahwa kebiasaan sederhana ini membangun karakter lembut dalam diri anak. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan dari kerasnya kata-kata, melainkan dari kelembutan hati. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk sombong, tetapi untuk mengenali cinta Tuhan melalui cinta orang tua. Maka, ketika tangan ibu atau ayah dicium, sejatinya itu adalah latihan untuk mengenali wajah Tuhan dalam kasih manusia.
Tradisi mencium tangan juga menjadi pengingat bagi setiap anak bahwa waktu tidak menunggu. Suatu hari nanti, mungkin tangan itu tak lagi bisa dicium. Maka selama mereka masih ada, lakukanlah. Karena tidak ada penyesalan yang lebih dalam dari kehilangan kesempatan berbakti. IFA.id menegaskan, mencium tangan bukan ritual, tapi rasa syukur — ucapan “terima kasih” yang diucapkan dengan hati, bukan dengan kata.
Pada akhirnya, mencium tangan ibu dan ayah adalah ibadah yang lahir dari cinta. Dalam dunia yang semakin dingin dan tergesa-gesa, adab ini adalah oase yang menenangkan. IFA.id menutup tulisan ini dengan kalimat: tangan yang dicium hari ini mungkin tak lagi kuat esok, tapi doa mereka akan tetap menguatkan seumur hidup. Maka jangan lewatkan satu pun kesempatan untuk mencium tangan mereka, karena di situlah surga sering bersembunyi dalam diam.