IFA.Id - Malam Lailatul Qadar selalu menjadi puncak dari perjalanan spiritual di bulan Ramadan. Di sepuluh malam terakhir, banyak umat Islam menanti datangnya malam yang lebih baik dari seribu bulan itu. IFA.id mencatat, Lailatul Qadar bukan hanya peristiwa langit, tapi juga perjalanan batin yang menuntun manusia kembali kepada hakikat dirinya.
Lailatul Qadar disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam penuh kemuliaan. Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Ayat ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, dzikir, dan doa di penghujung Ramadan.
Setiap tahun, misteri tentang waktu pasti Lailatul Qadar selalu menjadi perbincangan. Banyak ulama menyebutkan tanda-tandanya: suasana malam yang tenang, udara sejuk, dan matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan. Namun, IFA.id menekankan bahwa esensi sebenarnya bukan pada mencari tanggalnya, melainkan mencari maknanya.
Di berbagai masjid, terutama di sepuluh malam terakhir, suasana ibadah meningkat drastis. Jamaah bertahan hingga subuh dalam i’tikaf, memohon ampun dan mengharap rahmat. Seorang jamaah di Masjid Istiqlal Jakarta mengatakan kepada IFA.id, “Saya tidak tahu kapan tepatnya Lailatul Qadar, tapi saya ingin berada di masjid saat itu datang.” Kalimat sederhana ini menggambarkan kerinduan umat akan momen spiritual tertinggi dalam hidupnya.
Baca Juga: Ketika Bunga Jadi Dosa: Mengapa Islam Begitu Tegas Melarang Riba?
Secara spiritual, malam ini dianggap sebagai “malam penentuan”, di mana Allah menetapkan takdir dan membukakan pintu ampunan seluas-luasnya. Bagi banyak orang, ini adalah malam rekonsiliasi—antara manusia dan Tuhannya. Dalam diam dan tangis, banyak jiwa menemukan ketenangan yang tak bisa diberikan oleh dunia.
Di sisi lain, ada dimensi sosial dari Lailatul Qadar yang jarang disorot. Keberkahan malam ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk menebar kebaikan kepada sesama. Sedekah, memberi makan orang yang berpuasa, atau sekadar membantu yang lemah menjadi bentuk nyata dari cahaya Lailatul Qadar di bumi.
IFA.id mencatat bahwa di era modern, banyak komunitas muda muslim mulai menghidupkan kembali tradisi malam Lailatul Qadar dengan cara kreatif—seperti kajian daring, tadarus online, dan doa bersama lintas daerah. Dunia digital pun menjadi saksi betapa semangat mencari malam penuh berkah tak pernah padam.
Namun, di tengah hiruk pikuk itu, penting untuk menjaga niat tetap murni. Banyak yang terlalu sibuk dengan tanda-tanda, sampai lupa pada inti dari Lailatul Qadar itu sendiri: mendekatkan diri pada Allah dengan sepenuh hati. Seorang ustaz di Bandung pernah berkata kepada IFA.id, “Lailatul Qadar bukan tentang melihat tanda di langit, tapi tentang menyalakan cahaya di dalam hati.”
Baca Juga: Nilai Sosial Aqiqah: Menguatkan Ukhuwah dan Rasa Syukur
Malam itu bukan malam biasa. Dalam riwayat disebutkan bahwa malaikat turun ke bumi membawa ketenangan. Setiap doa, setiap tetes air mata, setiap kalimat istighfar menjadi bagian dari simfoni langit yang suci. Tidak heran jika banyak yang merasa malam itu berbeda—sunyi, tapi penuh kedamaian yang sulit dijelaskan.