Syarat masuknya pun lebih kompleks. Selain berkas administrasi, calon santri wajib mengikuti tes akademik (Matematika, Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Agama) serta wawancara kepribadian dan hafalan dasar Al-Qur’an.
IFA.id melansir data dari Kementerian Agama (Kemenag, 2025), bahwa sekitar 68% pesantren modern kini menerapkan tes psikologi dasar untuk menilai kesiapan adaptasi calon santri terhadap kehidupan asrama.
Satu hal yang menarik, pesantren modern biasanya menekankan keseimbangan antara disiplin ilmu dan mental juang.Calon santri dinilai bukan hanya dari hasil ujian, tapi dari bagaimana mereka bersikap saat proses seleksi apakah mandiri, berani, dan berakhlak baik.
Baca Juga: Perempuan Santri: Kiprah, Tantangan, dan Citra Baru di Dunia Pendidikan Islam
3. Perbedaan yang Terlihat — Tapi Tujuan yang Sama
IFA.id menemukan bahwa meskipun syarat masuk berbeda, baik pesantren salaf maupun modern memiliki tujuan yang sama: membentuk manusia berilmu dan berakhlak.
Pesantren salaf memulai perjalanan dari jiwa memperkuat spiritualitas dan akhlak sebelum ilmu. Sedangkan pesantren modern memulai dari akal memperkuat logika dan wawasan sebelum spiritualitas tumbuh dari kesadaran.
Namun, keduanya akhirnya bertemu di satu titik: kesadaran bahwa ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan, dan adab tanpa ilmu bisa kehilangan arah.
4. Syarat Non-Akademik: Ujian yang Tak Tertulis
Yang sering dilupakan banyak calon santri adalah syarat non-akademik. Di pesantren, bukan hanya hafalan yang diuji, tetapi juga kesanggupan untuk hidup disiplin dan patuh pada aturan.
Baca Juga: Ekonomi Santri: Dari Kantin Pesantren ke Startup Halal
IFA.id merangkum beberapa syarat non-akademik yang berlaku umum di dua jenis pesantren:
-
Kesiapan mental: sanggup bangun subuh, hidup tanpa gawai, dan mengikuti rutinitas ibadah berjamaah.
-
Kemandirian: mencuci pakaian sendiri, menjaga kebersihan kamar, mengatur jadwal belajar.
-
Kehormatan adab: sopan santun kepada guru dan teman, menjaga lisan, dan tidak melanggar tata tertib.