IFA.Id - Dalam Islam, ilmu adalah cahaya, dan guru adalah lentera yang menyalakannya. Tanpa guru, ilmu tidak akan sampai, dan tanpa adab, ilmu tidak akan bermanfaat. Karena itu, menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri. Siapa yang ingin ilmunya berberkah, maka ia harus memuliakan gurunya dengan sepenuh hati.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua, tidak menyayangi anak kecil, dan tidak menghormati ulama di antara kami.” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan, menghormati guru — yang termasuk dalam golongan ulama — adalah bentuk keimanan dan adab mulia yang dijunjung tinggi dalam Islam.
Di zaman para ulama terdahulu, murid-murid rela berjalan berhari-hari hanya untuk belajar satu hadis. Mereka mencium tangan gurunya, menundukkan pandangan, dan tidak berani bersuara keras di hadapan beliau. Semua itu bukan karena takut, tapi karena tahu bahwa keberkahan ilmu terletak pada adab.
Imam Malik rahimahullah, seorang ulama besar, bahkan tidak mau menunggang kuda di kota Madinah karena di sanalah Rasulullah ﷺ dimakamkan. Begitu besar rasa hormatnya kepada guru terbesar umat Islam. Sikap seperti ini menjadi teladan bagi siapa pun yang ingin menjadikan ilmu sebagai jalan menuju surga.
Baca Juga: Universitas Islam Madinah: Cahaya Ilmu dari Tanah Suci
Guru dalam Islam bukan hanya penyampai pengetahuan, tapi juga pembentuk akhlak. Mereka menanamkan nilai iman, kesabaran, dan keikhlasan. Maka, menghormati guru bukan hanya soal etika, melainkan juga bentuk syukur kepada Allah atas perantara ilmu yang telah Ia utus untuk membimbing kita.
Adab terhadap guru mencakup banyak hal: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, tidak memotong pembicaraan, tidak meninggikan suara, dan menjaga nama baiknya di mana pun. Dalam setiap tindakan yang sopan itu, ada keberkahan yang mengalir — sebab Allah mencintai hamba yang beradab kepada orang berilmu.
Ketika murid bersikap rendah hati di hadapan guru, Allah meninggikan derajatnya. Sebaliknya, ketika seseorang sombong terhadap gurunya, maka ilmunya menjadi kering dan tak berbuah. Itulah sebabnya, ulama mengatakan bahwa ilmu tidak akan menetap di hati yang sombong, melainkan hanya pada hati yang tunduk dan hormat.
Guru sejati mengajarkan dengan kasih sayang, dan murid sejati belajar dengan penuh hormat. Hubungan keduanya adalah hubungan spiritual, bukan sekadar akademis. Dari sini lahir ilmu yang tidak hanya cerdas di akal, tetapi juga bersinar di hati — ilmu yang menuntun menuju keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat.
Baca Juga: Al-Azhar Mesir: Cahaya Ilmu dari Kairo untuk Dunia
Madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat mendidik hati. Dari madrasah lahir generasi yang tidak hanya pandai, tapi juga beradab. Dan di sanalah para guru menjadi perantara surga — karena setiap murid yang tumbuh dalam bimbingannya menjadi amal jariyah yang mengalir tiada henti.
Maka, hormatilah guru sebagaimana kita memuliakan orang tua. Karena dari mereka, kita mengenal dunia dan akhirat. Dari mereka pula, kita belajar arti sabar, ikhlas, dan cinta ilmu. Sebab siapa yang menghormati gurunya, Allah akan memuliakannya. Dan siapa yang menjaga adab terhadap guru, niscaya akan menemukan keberkahan dari madrasah hingga ke surga.