tafaquh

Guru: Cahaya Ilmu dan Penuntun Jalan Hidayah dalam Islam

Rabu, 22 Oktober 2025 | 12:52 WIB
Cahaya Ilmu dan Penuntun Jalan Hidayah dalam Islam (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Dalam pandangan Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ia bukan sekadar pengajar yang mentransfer ilmu, tetapi juga penuntun jiwa menuju kebenaran dan cahaya hidayah. Setiap kata yang terucap dari lisannya bisa menjadi pelita bagi murid-muridnya, menuntun dari gelapnya kebodohan menuju terang pengetahuan dan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” Hadis ini menunjukkan betapa agungnya posisi guru dan ulama di sisi Allah. Mereka melanjutkan misi kenabian: menyebarkan ilmu, menanamkan akhlak, dan membimbing manusia agar mengenal Tuhannya.

Seorang guru, dalam Islam, bukan hanya mendidik dengan akal, tetapi juga dengan hati. Ia tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, namun juga menumbuhkan kecerdasan spiritual dan moral. Karena sejatinya, ilmu tanpa adab adalah bagaikan api tanpa kendali — bisa menerangi, tapi juga bisa membakar.

Al-Qur’an menegaskan betapa tinggi derajat orang berilmu. Dalam surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Guru termasuk di antara mereka yang berilmu dan mengajarkan ilmu dengan ikhlas, maka derajat mereka pun ditinggikan di sisi Allah.

Baca Juga: Pesantren dan Moderasi Beragama: Menyemai Damai dari Lingkungan Ngaji

Sejarah Islam mencatat, kemajuan peradaban Muslim tidak lepas dari peran para guru. Dari Imam Al-Ghazali hingga Ibnu Sina, dari madrasah sederhana hingga universitas besar seperti Al-Azhar — semua berdiri di atas dasar cinta ilmu dan keikhlasan para pendidik. Mereka mewariskan bukan hanya ilmu dunia, tapi juga kebijaksanaan hidup.

Guru yang sejati bukan hanya mereka yang berdiri di depan kelas, melainkan siapa pun yang menanamkan nilai dan ilmu dengan niat lillah. Seorang ibu yang mengajarkan anaknya mengucap basmalah, seorang ayah yang menuntun anaknya salat, bahkan sahabat yang saling menasihati dalam kebaikan — semuanya adalah “guru” dalam pandangan Islam.

Namun, kemuliaan guru seringkali terabaikan di zaman modern. Banyak yang menganggap profesi guru hanya pekerjaan biasa. Padahal, di tangan mereka, masa depan umat dibentuk. Dari keteladanan mereka, lahirlah pemimpin, ilmuwan, dan pejuang yang berakhlak mulia.

Islam mengajarkan untuk menghormati guru sebagaimana kita menghormati orang tua. Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku membuka lembaran kitab di hadapan guruku dengan perlahan, karena aku takut debu dari kitab itu mengganggunya.” Ungkapan ini menggambarkan betapa besar rasa hormat seorang murid terhadap gurunya dalam tradisi keilmuan Islam.

Baca Juga: Perempuan Santri: Kiprah, Tantangan, dan Citra Baru di Dunia Pendidikan Islam

Menjadi guru dalam Islam bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. Setiap ilmu yang diajarkan dengan niat yang tulus akan menjadi amal jariyah yang mengalir hingga hari akhir. Bahkan setelah sang guru tiada, setiap kebaikan yang dilakukan muridnya akan terus menambah pahalanya tanpa henti

Guru adalah cahaya ilmu dan penuntun jalan hidayah. Tanpa mereka, dunia akan kehilangan arah, dan generasi akan tumbuh tanpa panduan nilai. Maka, sudah sepatutnya kita menempatkan guru di tempat terhormat — mendoakan mereka, menghargai perjuangannya, dan menjaga warisan ilmu yang mereka tanamkan, agar cahaya itu terus menerangi umat sepanjang masa.

 

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB