Baca Juga: Santri Zaman Now: Antara Kitab Kuning dan Dunia Digital
“Kita ingin santriwati tidak hanya pandai mengaji, tapi juga bisa memproduksi konten dakwah kreatif,” kata pendirinya, Ustazah Fitri Maulidya.
IFA.id melihat ini sebagai bentuk revolusi literasi pesantren, di mana perempuan menjadi penggerak utama transformasi digital berbasis nilai keislaman.
Perempuan santri adalah potret harapan bagi masa depan pendidikan Islam di Indonesia.
Kehadiran mereka bukan sekadar angka statistik, tapi simbol pergeseran paradigma: bahwa ilmu, kepemimpinan, dan keberanian intelektual tidak mengenal jenis kelamin.
Namun, perubahan ini memerlukan dukungan serius mulai dari akses beasiswa, ruang riset, hingga representasi dalam kepemimpinan lembaga.
Baca Juga: Gontor Indonesia: Pesantren Dunia yang Melahirkan Pemimpin Bangsa
Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Azyumardi Azra (alm.), pendidikan Islam akan maju bila perempuan diberi tempat sejajar dalam mengelola ilmu dan tradisi.
Hari ini, perempuan santri sedang menulis bab baru dalam sejarah pesantren: bab tentang keberanian, pengetahuan, dan keseimbangan antara iman dan modernitas.
Dan mungkin, di antara mereka, lahir generasi baru ulama perempuan Indonesia yang membawa pesan Islam yang inklusif dan membumi.