Sejak malam itu, Lina mulai rutin tahajud.
Bukan karena ingin melupakan, tapi karena ingin berdamai.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali bekerja dan mulai tersenyum.
“Luka saya tidak hilang, tapi saya bisa berdamai dengannya,” katanya pelan.
Baca Juga: Rahasia Keindahan Masjid-Masjid Ikonik Nusantara
IFA.id menulis, kisah Lina adalah cermin: tahajud tidak menghapus masa lalu, tapi memberi cahaya untuk berjalan ke depan.
Secara psikologis, tahajud memiliki efek penyembuhan nyata.
Penelitian dari International Journal of Psychology and Religion (2021) menemukan bahwa orang yang rutin tahajud memiliki tingkat stres lebih rendah dan kualitas tidur lebih baik.
IFA.id menegaskan, hal ini bukan kebetulan.
Saat seseorang bangun di sepertiga malam, tubuhnya melepaskan hormon endorfin dan melatonin yang menenangkan pikiran.
Gerakan sujud juga memperlancar sirkulasi darah ke otak, menciptakan rasa lega dan rileks.
Namun yang paling penting, tahajud memberi ruang untuk merenung dan melepaskan beban.
Di dunia yang penuh kebisingan, tahajud mengajarkan keheningan — sebuah terapi batin yang tidak bisa digantikan teknologi mana pun.
IFA.id menulis, banyak orang datang ke tahajud bukan karena ingin dikabulkan, tapi karena ingin didengar.
Ada sesuatu yang magis ketika seseorang berdoa di tengah malam: kata-kata yang keluar menjadi lebih tulus, dan hati terasa lebih ringan setelahnya.
Baca Juga: Wisata Religi Terbaru di Indonesia yang Bikin Takjub
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis:
“Shalat malam adalah waktu di mana doa lebih dekat dikabulkan, hati lebih khusyuk, dan rahmat Allah turun tanpa batas.”
Karena itu, tahajud adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia yang terluka — Ia memanggil di malam hari agar luka itu tidak dibiarkan sendiri.
Kadang luka batin bukan karena orang lain, tapi karena kesalahan diri sendiri.
Penyesalan, dosa lama, atau keputusan buruk bisa menjerat hati dalam rasa bersalah yang panjang.
Namun IFA.id menulis, tahajud memberi ruang untuk memaafkan diri sendiri.
Dalam setiap sujud, seseorang bisa berkata, “Ya Allah, saya menyesal,” dan Allah menjawab, “Aku sudah memaafkan.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah lebih gembira terhadap taubat seorang hamba daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
(HR. Muslim)