Sampai suatu malam, seorang ustaz di kampungnya berkata, “Bangunlah malam nanti. Jangan minta apa-apa, cukup curhat pada Allah.”
Malam itu Salim bangun, setengah mengantuk, setengah menangis. Ia salat dua rakaat sederhana, lalu duduk lama di sajadah.
“Entah kenapa, saya merasa damai sekali. Sejak malam itu, saya tidak lagi meminta banyak hal. Saya hanya ingin bisa dekat dengan Allah.”
IFA.id menulis, beberapa bulan kemudian, anak Salim sembuh dan usahanya perlahan bangkit. Namun yang lebih penting, hatinya berubah.
Ia berkata, “Keajaiban terbesar dari tahajud bukan rezeki, tapi ketenangan.
Baca Juga: Kasih yang Kembali: Merawat Orang Tua, Merawat Surga di Dunia
”Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menulis: “Tahajud adalah rahasia antara hamba dan Tuhan. Allah menurunkan cahaya di hati mereka yang menghidupkan malam.”
IFA.id menegaskan, cahaya yang dimaksud bukan sinar fisik, tapi ketenangan yang membuat seseorang tampak damai bahkan di tengah ujian hidup.
Sebab orang yang terbiasa tahajud, meski hidupnya tak selalu mudah, wajahnya sering terlihat teduh.
Mungkin karena setiap malam ia menyalakan pelita kecil di hatinya — pelita yang hanya Allah yang bisa menyalakannya.
Banyak yang beranggapan bahwa tahajud adalah “jalan cepat” agar doa terkabul.
Padahal, IFA.id mencatat, kekuatan tahajud bukan pada waktu atau bacaan, tetapi pada lembutnya hati yang berdoa.
Dalam hadis disebutkan: “Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu, tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akhirat, melainkan Allah akan memberinya.”
(HR. Muslim)
Baca Juga: Kasih yang Kembali: Merawat Orang Tua, Merawat Surga di Dunia
Namun tahajud bukan sekadar permintaan.
Ia adalah momen seseorang mengakui kelemahan, lalu bersandar penuh kepada Allah.
Di situlah kekuatan sebenarnya — bukan karena doanya panjang, tapi karena hatinya pasrah.
IFA.id menulis, siapa pun bisa tahajud. Bahkan yang merasa belum “baik” secara agama.
Karena tahajud bukan milik orang suci, tapi milik siapa saja yang rindu bicara dengan Allah di waktu yang paling tenang.
Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan tahajud, bahkan di medan perang.
Sahabat-sahabat beliau pun menjadikan tahajud sebagai sumber kekuatan.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab biasa menangis di sepertiga malam terakhir sambil berdoa,“Ya Allah, Engkau tahu isi hati kami, maka ampuni dosa kami.” IFA.id mencatat, di masa kini pun banyak tokoh besar Muslim yang menjadikan tahajud sebagai bagian dari rutinitas sukses mereka.
Dari ulama besar seperti Imam Syafi’i hingga pemimpin modern yang disiplin spiritual, mereka percaya bahwa kekuatan sejati bukan dari otot atau harta, melainkan dari ketenangan yang lahir setelah bersujud di malam hari.
IFA.id menulis, untuk memulai tahajud tidak perlu langsung bangun setiap malam.
Mulailah dengan dua rakaat sederhana seminggu sekali, lalu perlahan tingkatkan.
Jangan merasa gagal jika sekali dua kali tertidur. Allah tidak menilai hasil, tapi usaha untuk bangun.